Catatan Akhir Pekan /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 15/12/2019 10:44 WIB

Radikalisme, Peradaban, dan Rasulullah

Radikalisme
Radikalisme

DAKTA.COM - Oleh: Agus Wahid, Peneliti dan Konsultan Politik INTRAPOLNAS

 

Radikalisme adalah paham yang memomokkan. Karenanya harus dienyahkan dari belahan bumi ini, termasuk dari peta Indonesia. Itulah radikalisme, yang kini menjadi sorotan sebagian anak bangsa dan negara.

 

Yang memprihatinkan adalah gerakan politik sistimatis untuk mengenyahkan radikalisme itu lebih teralamatkan kepada entitas Muslim secara eksplisit. Dan lebih memprihatinkan lagi, para pengenyah itu justru dari elemen elite Muslim dan jajarannya, sebagai komponen negara, akademisi atau lainnya. Begitu sempurna gerakan anti-radikalisme itu, karena berhasil merasuk di berbagai level secara menyeluruh.

 

Bisa dipahami mengapa muncul gerakan sistimatis yang tidak mentolelir sedikitpun terhadap aroma radikalisme. Dalam fakta sosial dan politik, di antara kaum radikalis mempertunjukkan sejumlah tindakan anarkis yang melampaui batas, sehingga membentur hak dan kepentingan banyak pihak. Tindakan anarkis di mata sebagian pihak terjadi karena paham radikal yang menyelimuti atau diikuti.

 

Kita perlu menelusuri, benarkan paham radikalis menjadi faktor determinan dari tindakan anarkis, teroristik dan barbaristik? Dalam hal ini kita perlu menengok makna lughawi radikal. Jika kita buka literasi bahasa, radikal dari kata "radic" berarti "sesuatu yang mendasar".

 

Jika dikaitkan dengan kegiatan proses, maka padanannya adalah cara, upaya, dan kemampuan untuk berpikir secara mendalam dan itu dengan sendirinya berangkat dari sesuatu yang sangat mendasar dan mendalam (rasikhah). Dalam wacana keilmuan sering kita jumpai dengan istilah filsafat.

 

Menggarisbawahi makna lughawi itu maka radikalisme tak bisa dikaitkan dengan tindakan anarkis. Artinya, paham radikal tak bisa diidentikkan secara otomatis dengan anarkisme.

 

Karenanya, kita semua haruslah jernih dalam menatap persoalan radikalisme. Bahkan secara paralel kita harus cerdas dalam menelaah sejumlah faktor mengapa terjadi tindakan anarkis. Dalam kaitan ini, kita perlu menatap persoalan ketidakadilan dalam kaitan politik, ekonomi (ketidakmampuan menjangkau kebutuhan akibat jeratan kemiskinan), hukum bahkan sumbatan cita-cita yang bersifat ideologis, semua itu bisa menjadi pendorong para pihak bertindak anarkis.

 

Brutalisme ini merupakan artikulasi kekecewaan, bisa terhadap keadaan ataupun sistem. Inilah potret gagal paham sebagian kita sebagai pribadi, kelompok dan bahkan negara dalam menatap faktor di balik persoalan anarkisme. Reaksi para anarkis tidak dilihat dengan jernih. Lucunya, sikap anti-anarkis itu kemudian menuding secara a priori terhadap kalangan yang berpaham radikal.

 

Jika kita kaitkan dengan dunia peradaban, maka realitas peradaban saat ini tak lepas dari gerakan radikal pemikiran para filosuf dulu, yang diawali dengan berfikir sangat mendasar dan mendalam. Tak percaya pada realitas cara pandang yang berkembang di permukaan masyarakat saat itu, meski di antara mereka harus tercabut nyawanya akibat kukuh pendirian atas keyakinan (pemikirannya).

 

Sebut saja, Galilio Galilei (lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564, wafat di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642). Seorang fisikawan dan astronom Italia ini tercatat memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah, tapi pendapatnya harus menemui ajal. Dia harus rela hilang nyawanya karena pendapatnya bumi itu bulat berlawanan dengan pendapat pemuka gereja (bumi datar). Galilio dinilai menista agama di mata para pemuka gereja.

 

Kita saksikan, pemikiran radikal Galileo-Galilei berhasil mengantarkan pemahaman baru sekaligus sebagai sain dalam sistem taransportasi lautan. Maka, lahirlah keberanian sebagian umat manusia untuk menjangkau wilayah yang jauh lebih luas, dalam misi yang beragam. Dalam hal ini kita kenal sosok pejelajah Vasco de Gama asal Portugal yang dinilai sebagai penemu benua Amerika.

 

Yang perlu kita catat, temuan Vasco Degama tetang benua baru menjadi faktor penting atas panorama migrasi bangsa Eropa ke Amerika. Sementarab Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami yang lebih dikenal Ibnu Khaldun (lahir 27 Mei 1332-meninggal 19 Maret 1406) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal Muqaddimah.

 

Kita perlu mencatat, Ibnu Khaldun karena perjalanannya melanglang ke berbagai belahan dunia, beliau memberikan sumbangsih yang besar pada ilmu pengetahuan. Sebagian pemikirannya diadopsi oleh generasi penerus Muslim dan umat lainnya sebagai produk ilmu pengetahuan modern.

 

Jika kita mengingat kembali zaman Revolusi Industri, maka hadirnya mesin uap tak lepas dari keberhasilan James Watt, kelahiran Greenock, Skotlandia, 19 Januari 1736 – wafat di Birmingham, Inggris, 19 Agustus 1819. Sebagai seorang insinyur besar dari Skotlandia, Britania Raya ini berpikir keras dan mendalam tentang potensi air yang dipanaskan dalam suhu penuh panasnya (1.000 celcius dan bertahan untuk sekian waktu), sehingga mampu menggerakkan mesin yang sudah dirancang sistem kerjanya.

 

Temuan ini jika kita tarik ke belakang pada alam pekiran Yunani kuno sebagaimana yang pernah ditulis Hatta bahwa awal sumber dunia ini adalah air (pendapat Thales, kelahiran Milatos – Yunani, hidup pada abad keenam SM,). Sementara, Anaximandros (murid Thales, asal Miletos juga, hidup pada 610-546 SM) melihat semuanya berawal dari api dan Anaximenes (murid Anaximandros, asal Miletos, hidup pada 528/526 SM) berpendapat lain: semuanya berawal dari udara.

 

Jika kita telaah, semua pendapat filosuf Yunani Kuno itu dalam perspektif ilmu, mendekati kebenaran jika tidak mendasarkan pengetahuan keagamaan. Mengapa pada temuan Revolusi Industri itu, maka ketiga komponen itu (air, udara dan api) saat disinergikan menjadi kekuatan dahsyat.

 

Tak bisa dipungkiri, realitas hadirnya mesin uap itu juga menjadi faktor penting dalam perkembangan teknologi, terkait dunia industri pabrikan, perkapalan dan lainnya. Semua ini harus kita akui tak lepas dari keberhasilan para pemikir radikal yang berpikir mendasar dan mendalam atas panorama alam yang terlihat di permukaan. **

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Agus Wahid
- Dilihat 1251 Kali
Berita Terkait

0 Comments