Oase Iman /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 24/11/2019 12:04 WIB

Hakikat Nyawa atau Ruh

Ilustrasi (ilmedavet.com)
Ilustrasi (ilmedavet.com)
DAKTA.COM - Seorang manusia terdiri dua bagian, yaitu jasad yang nampak dan ruh yang tidak tampak. Keberadaan ruh pada jasad adalah kesatuan yang harus ada untuk keberadaan hidup seorang manusia; dengan adanya ruh pada jasad kita menjadi seorang manusia yang hidup, jika ruh terpisah dari jasad, maka kita hanya menjadi mayat, atau daging dan tulang tanpa kehidupan.
 
Karena kita dan semua manusia adalah jasad dan ruh, seperti alat elektronik tanpa listrik atau baterai, hanya akan menjadi setumpuk besi, begitulah keadaan jasad tanpa ruh.
 
Kita telah mengetahui tentang jasad, dan tentu ada juga diantara kita ingin mengetahui tentang ruh.
 
Lalu Apa Hakikat Ruh?
 
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al Isra,85)
 
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa apa dan bagaimana hakikat ruh itu merupakan ilmu yang Allah Ta’ala tidak ajarkan kepada hamba-Nya. Akan tetapi ilmu tentang ruh tidak tertutup sama sekali dari seorang hamba, artinya kita bisa mengetahui tentang ruh dengan pengetahuan yang sedikit.
 
Syaikh As Sya’di rahimahullah berkata, “Mereka (Orang Yahudi) bertanya tentang ruh yang merupakan pengetahuan yang disembunyikan, sehingga tidak semua orang bisa menjelaskan sifat dan bentuknya, dan mereka hanya memiliki sedikit ilmu yang menjelaskan tentang ruh”. (Taisir Al Karim Ar Rahman, Hal.466)
 
Kita harus memahami bahwa bagaimanapun kita berusaha mencari kita tidak akan mengetahui hakikat ruh. Karena ruh adalah bagian dari kita, maka kita akan mencoba mencari tahu sedikit ilmu yang mungkin bisa kita dapatkan tentang ruh.
 
– Ruh tercipta sebelum jasad kita, bahkan sejak awal penciptaan manusia pertama Nabi Adam ‘alaihissalam, ruh telah diciptakan, kemudian Allah Ta’ala mengambil persaksian dari ruh akan ketuhanannya, bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb (Tuhan) kita.
 
– Kemudian jasad kita tercipta pada Rahim ibu kita, pada umur 4 bulan atau 120 hari ruh yang telah diciptakan terlebih dahulu ditiupkan ke dalam jasad tubuh jasmani kita, sehingga kita mulai menjadi manusia yang hidup dan telah memiliki dua sifat kemanusian yaitu jasmani dan ruhani pada diri seorang anak manusia.
 
– Kemudian Ruh akan terpisah dari jasad pada saat kematian, kemudian kembali menyatu di alam kubur ketika ditanya oleh dua malaikat, dan menyatu secara sempurna ketika kita dibangkitkan di hari kiamat untuk menjalani kehidupan akhirat.
 
– Alam dunia kehidupan jasad yang dominan, alam kubur kehidupan ruh yang dominan dan di akhirat merupakan tempat bersatunya ruh dan jasad secara sempurna.
 
Ketika ruh bersatu dengan jasad, bagaimana bentuk ruh? Apakah mengikuti bentuk jasad?
 
Syaikh Sholeh Alu Syaikh menjawab tentang hal itu, beliau berkata,”Ruh berbentuk seperti jasad, apabila ruh dipisahkan dari jasad maka bentuk keduanya sama.
 
Jasad adalah tubuh jasmani kita, ruh adalah makhluk selain jasmani yang hanya Allah yang tahu hakikatnya, adapun bentuk keduanya adalah sama.
 
Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpinya maka dia telah melihat bentukku yang asli, karena setan tidak bisa menampakan dirinya seperti rupaku.”
 
Seseorang yang melihat Nabi di dalam mimpinya, dia sedang melihat ruh Nabi, karena jasad Beliau telah dikubur. Seseorang yang melihat ruhnya, dia melihat ruh itu serupa dengan bentuk jasadnya ketika beliau masih hidup, pada saat ruh dan jasad bersatu pada diri Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam.
 
Rupa ruh serupa dengan jasad, jasad seseorang sama dengan bentuk ruhnya, dan hal itu dikarenakan oleh keadaan ruh ketika ditiupkan ke dalam jasad, maka ruh berbentuk mengikuti bentuk jasad jasmani yang ditempatinya. Dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahui hakekat segala sesuatu”. (Syarah At Thahawiyah, hal.187).
 
Semoga apa yang saya tulis disini bisa memberikan gambaran jawaban bagi pertanyaan yang ditanyakan. Wallahualam.
 
oleh Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf , Lc. MA. (Dosen Ilmu Hadits STDI Jember)
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Konsultasisyariah.com
- Dilihat 1715 Kali
Berita Terkait

0 Comments