Opini /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 29/10/2019 08:03 WIB

Gelombang Liberalisasi di Bumi Haji

Konser Super Junior di Arab. Foto: Twitter/@SJofficial
Konser Super Junior di Arab. Foto: Twitter/@SJofficial

DAKTA.COM - Oleh : Ayin Harlis (Narasumber Kajian Muslimah MQ Lovers Bekasi)

 

Perempuan-perempuan Arab Saudi kini dibebaskan untuk tidak memakai abaya ketika mereka keluar dari rumahnya. Ketentuan ini hanyalah salah satu dari kebijakan-kebijakan baru Arab Saudi yang dianggap lebih berpihak pada kesetaraan gender.

 

Aturan-aturan lain yang ditetapkan Arab Saudi meliputi bebas bepergian tanpa izin wali laki-laki, boleh mengemudikan sendiri kendaraannya, memiliki hak memilih dalam pemilu dewan kota, dan hak atas akses pendidikan serta kesehatan tanpa izin wali laki-laki.

 

Selain itu, perempuan Saudi juga bisa memulai bisnis tanpa izin dari wali laki-laki, menonton di stadion, menduduki jabatan publik strategis, berolahraga di depan umum, mendaftar ke militer, hingga dapat mempertahankan hak asuh anak bila bercerai.

 

Aturan-aturan baru ini tak dapat dilepaskan dari upaya modernisasi yang digagas Raja Abdullah dan dilanjutkan oleh pewaris tahtanya Pangeran Muhammad bin Salman. Kebijakan-kebijakan penguasa Arab Saudi itu tertuang dalam sebuah rancangan strategis bernama Vision 2030. Agenda Arab Saudi untuk mendiversifikasi, memprivatisasi, dan memodernisasi perekonomian Arab Saudi melahirkan berbagai kebijakan baru bahkan hingga struktur sosialnya.

 

Perusahaan asing kabarnya mulai enggan berinvestasi di kerajaan konservatif ini karena masalah hukum, korupsi, serta berbagai larangan yang bersifat religius. Untuk itulah, Komisi Arab Saudi untuk Pariwisata dan Warisan Nasional melonggarkan peraturan ketat yang mengatur interaksi sosial, setelah Riyadh meluncurkan visa turis pertamanya 6 Oktober lalu.

 

Pasangan pelancong mancanegara yang piknik ke Saudi, sekarang bisa menginap satu kamar tanpa diwajibkan memberikan bukti nikah. Hal tersebut diharapkan mampu mendorong kontribusi terhadap PDB dari 3% menjadi 10%.

 

Meskipun terdapat beberapa perubahan yang tidak melanggar syariat Islam, kebijakan baru yang muncul bukan karena hasil ijtihad atas dalil yang lebih kuat. Nampak jelas perubahan aturan interaksi sosial antara lelaki dan perempuan bukan didasari oleh pertimbangan agama. Kepentingan ekonomi negara lebih mendominasi.

 

Hal ini disampaikan oleh pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi, "Semua aturan yang diberlakukan oleh MBS tidak berkaitan dengan isu gender dan pandangan keagamaan. Semuanya hanya berhubungan dengan fokus utama kerajaan Arab Saudi: meningkatkan perekonomian negara."

 

Sangat disayangkan, Arab Saudi yang dikenal banyak orang sebagai cerminan Islam karena menjadi tempat kegiatan ritual haji, semakin nyata tak ada bedanya dengan negara-negara sekuler lain. Kebijakan-kebijakan pemerintah disetir oleh kepentingan ekonomi yang lebih kuat sebagai acuan format kehidupan publik. Inilah tanda utama kapitalisme.

 

Kepentingan kapital ini, tak tanggung-tanggung akan menempatkan nilai-nilai lain di bawah nilai ekonomi. Termasuk nilai-nilai dan aturan agama. Apalagi norma moralitas dan etika, tak dinilai berharga. Tujuan pertumbuhan ekonomi di atas segalanya. Menempatkan keluhuran budi dan ketaqwaan generasi hanya pemanis bibir belaka.

 

Islam selalu menempatkan kepentingan agama dan kemaslahatan umat sebagai tujuan tertinggi terutama dalam pengaturan urusan publik. Kepentingan-kepentingan lain harus ditempatkan sejalan dengan kepentingan Islam, ajarannya, serta dakwahnya.

 

"Islam itu tinggi dan tidak ada yang dapat mengungguli ketinggiannya." HR. Ad-Daruquthni.

 

Pola pikir menempatkan norma-norma agama sebagai sesuatu yang bisa dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi tidak dikenal di dalam Islam. Sebaliknya, Islam menegaskan bahwa kemaslahatan dunia akan diperoleh dengan berpegang pada aturan Allah.

 

 

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al-A’raf Ayat 96)

 

Demikianlah, selayaknya negeri-negeri Muslim mengembalikan tuntunan Islam dalam aturan-aturan publik, bukan memberi peluang lebar untuk masuknya paham liberal ke tengah umat Islam. Dengan demikian, Arab Saudi sebagai negeri muslim akan menjadi bumi yang dipenuhi suasana ketundukan total kepada Allah SWT. Sebagaimana yang tercermin dalam pelaksanaan ibadah haji sebagai ikon negaranya. **

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Ayin Harlis
- Dilihat 1095 Kali
Berita Terkait

0 Comments