Nasional / Teknologi /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 22/10/2019 14:49 WIB

Melahirkan Talenta Unggul Lewat Ekosistem Iptek yang Kondusif

Ilustrasi ilmu pengetahuan dan teknologi
Ilustrasi ilmu pengetahuan dan teknologi
JAKARTA, DAKTA.COM - Pembangunan sumber daya manusia unggul menjadi satu dari lima sasaran pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin untuk periode 2019-2024 mendatang. 
 
“Konsep sumber daya manusia unggul adalah sosok pion yang memberi dampak ekonomi yang besar. Hal itu tidak mungkin tercapai tanpa adanya ekosistem iptek yang kondusif,” jelas Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Laksana Tri Handoko di Jakarta pada Senin (21/10).
 
Menurut Handoko sosok-sosok seperti Nadiem Makarim lahir berkat adanya ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
 
“Ekosistem ini adalah platform yang membuat orang berkumpul secara alami, bukan karena otoritas tapi dari fungsi dan layanan yang diberikan. Platform ini harus terbuka bagi semua pihak, menciptakan interaksi yang alami, dan memungkinkan siapa saja bisa menjadi inovator,” jelasnya.
 
Saat ini, LIPI tengah mengupayakan penciptaan platform tersebut. Beberapa hal yang dilakukan antara lain lewat investasi besar-besaran pada infrastruktur riset, membuka fasilitas agar publik bisa berkolaborasi dalam kegiatan penelitian, perekrutan diaspora, program master dan doktoral by research, juga debirokratisasi. 
 
“Lembaga riset idealnya harus berfungsi sebagai hub untuk memfasilitasi mitra juga merangsang muncculnya technopreneur dan innopreneur yang terlibat dalam proses penelitian," ucapnya.
 
Untuk mencapai hal tersebut, LIPI membuka peluang industri dan swasta untuk menggunakan fasilitas LIPI baik berupa peralatan, laboratorium, maupun sumber daya manusia iptek. 
 
“Kami juga memfasilitasi akademisi untuk berkolaborasi lewat fasilitasi perusahaan rintisan dan magang penelitian untuk mahasiswa,” jelasnya.
 
Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengungkapkan, salah satu persoalan pokok sumber daya manusia iptek Indonesia adalah hanya 14,08 persen yang berkualifikasi S3. 
 
“Dari sisi produktivitas jumlah publikasi internasional Indonesia sebanyak 72.146. Meskipun mengalami peningkatan, tetapi posisi masih ada di peringkat 52 dari 230 negara,” ujarnya.
 
Nur juga mengungkapkan, dari 9.362 paten yang didaftarkan secara global hanya 2.272 atau 24 % berasal dari peneliti Indonesia. 
 
“Kondisi ini menunjukkan sistem inovasi di Indonesia perlu terus didorong dan ditingkatkan agar tumbuh ekosistem riset disamping alokasi pendanaan dan sistem insentif yang memadai bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia iptek,” papar Nur.
 
Selain mengelola 1.400 sumber daya manusia peneliti dari 3.985 pegawainya, LIPI juga bertanggung jawab melakukan pembinaan dan pelatihan sumber daya peneliti nasional sebanyak 8.709 orang yang berasal dari 45 kementerian dan lembaga. 
 
Nur menjelaskan, saat ini, pemerintah di bawah koordinasi  Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas telah menyusun desain dan kebijakan Manajemen Talenta Nasional yang di dalamnya melibatkan unsur kementerian dan lembaga lainnya seperti Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Lembaga Administrasi Negara, serta Komite Aparatur Sipil Negara . **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Lipi.go.id
- Dilihat 442 Kali
Berita Terkait

0 Comments