Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 03/09/2019 13:59 WIB

Air Bersih atau Air Kotor?

Dialog Ruang Publik Radio Dakta di Hotel Amaroossa Grande Bekasi
Dialog Ruang Publik Radio Dakta di Hotel Amaroossa Grande Bekasi
BEKASI, DAKTA.COM - Masalah air baku di Kota dan Kabupaten Bekasi sepertinya menjadi momok bagi masyarakat, karena kualitasnya yang buruk membuat mereka bimbang menggunakannya, tetapi di sisi lain membutuhkan air untuk kegiatan sehari-hari.
 
Air baku yang dikelola oleh PDAM Tirta Patriot dan Tirta Bhagasasi itu seakan membuat masyarakat geram atas produksi air yang berbau, keruh, dan volumenya kecil, ditambah lagi pelayanannya tidak memuaskan.
 
Pada satu tahun belakangan ini banyak masyarakat dari Kota/Kabupaten Bekasi yang memberikan keluhannya kepada Radio Dakta agar disampaikan ke pihak terkait. Beberapa diantaranya:
 
"Assalamualaikum. Setiap hari air PDAM Tirta Patriot kayak gini. Mohon sampaikan ya ke Pemkot Bekasi. Karena tiap hari berapa ratus sampai berapa ribu liter air dibuang karena tidak layak pakai. Tetapi tetap harus dibayar," keluh Jajang Rusnadi melalui Whatsapp Radio Dakta, 30 Juli 2019.
 
“Mohon maaf minta tolong sampaikan ke PDAM Bekasi kabupaten/kota sudah 1 bulanan air kotor/keruh dan sekarang air sudah sedikit jernih tapi banyak cacing kecil yang terbawa air, terima kasih atas bantuannya. Area pondok ungu permai sektor 5 blok Q RW 29,” tulis Slamet Warsono melalui Whatsapp Radio Dakta pada 4 Agustus 2019.
 
Air keruh di rumah warga Rw 08 Sepanjang Jaya pada tanggal 17 Agutus 2019
 
Dalam rangka menyambung lidah masyarakat kepada pemerintah, Radio Dakta menggelar Dialog Publik dengan menghadirkan narasumber yang berkaitan dengan persoalan di atas, pada Selasa (3/9) di Hotel Amaroossa Grande Bekasi.
 
 
Musim Kemarau dan Sumber Air yang Tercemar
 
Direktur Utama Tirta Patriot, H Solihat mengungkapkan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalah air baku. Namun, semua itu terkendala oleh air baku dari hulu yang sudah tercemar. Akibatnya air yang sampai dari Kabupaten Bogor ke Bekasi pun menjadi kurang baik.
 
Untuk itu, ia mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta (PJT) II sebagai penyedia air baku. Namun karena kondisi air sungai yang sudah tercemar limbah, sehingga dibutuhkan penanganan khusus dari pemerintah pusat, yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemerintah Kabupaten Bogor.
 
"Kami mencoba berdiskusi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, tapi ternyata persoalannya sumber air kita sudah terkena limbah dari Bogor. Artinya harus selevel menteri yang menangani ini,"  ucapnya.
 
Air Baku Keruh Wajar?
 
Direktur Utama PDAM Tirta Bhagasasi, Usep Rahman Salim menyatakan air keruh merupakan hal yang wajar, karena permasalahan PDAM ini menyeluruh di Indonesia.
 
"Wajar air keruh karena akibat pipanisasi dari hilir, apalagi PDAM Tirta Bhagasasi kurang lebih 38 tahun sudah menanamkan pipa, artinya harus ada pembaharuan untuk jaringan pipa," ungkapnya.
 
Ia menyebut, adanya cacing-cacing dalam air juga timbul melalui aliran pompa. Sebab kondisi pipa yang tidak mampu menyaringnya.
 
"Jadi antisipasinya memang kita lakukan terus-menerus pengurasan dan karena terus terang saja untuk pengurasan itu tidak mungkin selesai dalam waktu yang singkat. Karena jaringan pipa kita panjang," paparnya.
 
Jangkau PDAM Tirta Bhagasasi sangat luas karena melayani dua wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi. Untuk di Kota Bekasi, Tirta Bhagasasi melayani hampir 30 persen dari seluruhnya, sedangkan Kabupaten Bekasi dari 23 kecamatan 17 kecamatan sudah terlayani walaupun belum sepenuhnya.
 
Narasumber yang hadir dalam Dialog Publik Radio Dakta
 
Berantas Tata Kelola Buruk PDAM
 
Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menyatakan komitmennya untuk mendorong kedua PDAM itu untuk memperbaiki tata kelola mengenai pelayanan.
 
"Karena sekarang ini sudah zaman milenial, artinya tidak ada jarak antara pemerintah sebagai pelayan dengan masyarakat dan harus terjalin komunikasi dua arah," tegas Tri.
 
Menurut Tri, keluhan PDAM ini bukan hanya melalui Radio Dakta, melainkan akun Instagram pribadinya @mastriadhianto juga diserang masyarakat.
 
"Memang kita kesulitan sumber air baku, kita tahu Kali Bekasi luar biasa tingkat pencemarannya. Makanya kita meminta pemerintah pusat mengambil langkah tegas menindak pabrik yang tidak memiliki IPAL, tetapi membuang langsung limbahnya ke sungai," jelasnya.
 
Ia juga menekankan kepada PDAM Tirta Bhagasasi dan Patriot untuk meningkatkan tata kelola, jangan sampai masyarakat merasa keluhannya tidak dilayani.
 
"Masyarakat butuh informasi yang jelas, kanal pengaduan harus segera ditindaklanjuti, pembangunan infrastruktur, dan rehabilitasi jaringan pipa," tuturnya.
 
Dialog Publik Radio Dakta tentang pelayanan PDAM Tirta Patriot dan Tirta Bhagasasi 
 
Senada dengan Wakil Wali Kota Bekasi, Asisten Daerah (Asda) III Pemerintah Kota Bekasi, Nadih Arifin juga meminta kedua pengelola air tersebut meningkatkan pelayanan. Harus ada tindakan langsung ketika keluhan datang dari masyarakat.
 
Ia juga mendorong dilakukan akuisisi pemisahan PDAM Tirta Bhagasasi, sehingga kedepannya seluruh wilayah Kota Bekasi dilayani oleh PDAM Tirta Patriot.
 
"Jadi persoalan air di Kota Bekasi lebih mudah, pelayannya pun lebih terintegrasi," ujarnya.
 
Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Bekasi, Mohamad Nuh menyebut perlu adanya standarisasi untuk kualitas minimum dari air baku PDAM.
 
"Karena standar PDAM itu layak konsumsi. Makanya PDAM harus mengutamakan pelayanan, jangan sampai masyarakat terbengkalai," terangnya. 
 
Sebagai dewan, pihaknya hanya  mengawal dalam hal pelayanan, dan mendorong agar layanan PDAM Tirta Bhagasasi dapat menjangkau hingga 100 persen penduduk di Kabupaten Bekasi. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 1384 Kali
Berita Terkait

0 Comments