Oase Iman /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 20/08/2019 11:06 WIB

Pengorbanan dan Ketaatan Tanpa Syarat

Ilustrasi taat
Ilustrasi taat
DAKTA.COM - Oleh: Irma Sari Rahayu (Pegiat Dakwah)
 
Ibadah haji telah berlalu. Idul Adha pun telah dirayakan oleh jutaan kaum Muslimin di seluruh penjuru negeri. Lalu apa yang tersisa setelahnya? Apakah bertambah taat, atau berlalu begitu saja layaknya ritual tahunan biasa?
 
Haji dan Idul Adha sejatinya adalah simbol pengorbanan dan ketaatan mutlak seorang hamba kepada Rabbnya sebagai konsekuensi iman. Ketaatan totalitas ini telah dicontohkan dengan begitu agung oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya. 
 
Tunduk patuh atas semua perintah Allah SWT. Tak banyak bicara, bertanya, apalagi mendebatnya. Allah pun memberikan pujian melalui firman Nya: "Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya" (QS Al Mumtahanah:4)
 
Ketaatan secara totalitas kepada syariat Allah SWT sulit diwujudkan dalam kehidupan alam demokrasi saat ini. Stigma buruk terhadap syariat Islam senantiasa disematkan oleh para pembencinya.
 
Hijab diidentikkan dengan pakaian ala Arab. Memperjuangkan Islam kaffah dilabeli radikal. Ketaatan istri terhadap suami dikatakan bentuk penindasan. Aurat diumbar dengan dalih kebebasan dan sebagainya. Ketaatan seorang Muslim pada sistem ini cukuplah dalam ranah beribadah saja. Untuk urusan dunia, syariat sudah tidak relevan lagi.
 
Spirit haji dan Idul Adha berupa pengorbanan dan ketaatan mutlak hanya bisa terjaga di dalam sistem Islam. Ketaatan individu Muslim akan terjaga dan terkontrol oleh masyarakat yang senantiasa ber ammar ma'ruf nahi munkar.  
 
Peran negara melalui penerapan syariat secara menyeluruh dan tegas semakin mengokohkan ketaatan. Tak ada ruang bagi individu-individu yang enggan tunduk dan menjadikan syariat Islam laksana panganan prasmanan. Dilaksanakan jika berkenan, dijauhkan jika tak suka.  Cukuplah Allah memberikan peringatan kepada siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul Nya. 
 
Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 36)
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Irma Sari Rahayu
- Dilihat 1462 Kali
Berita Terkait

0 Comments