Bekasi /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 16/08/2019 15:28 WIB

Kisah Pejuang Bekasi KH Noer Ali, Sang Pencinta Ilmu

KH Noer Ali (istimewa)
KH Noer Ali (istimewa)
BEKASI, DAKTA.COM - Bekasi dikenal sebagai Kota Patriot, tentu penamaan itu tidak lepas dari para tokoh pejuang dari Bekasi. Salah satunya pejuang sekaligus ulama kharismatik yang paling dikenal asal Bekasi, yakni KH Noer Ali.
 
Sosok KH Noer Ali yang hanya dikenal oleh sebagian orang pada akhir hidupnya ini ternyata menyimpan kisah yang sangat inspiratif dan berkarakter.
 
Ketua STAI At-Taqwa, KH Abid Marzuki menceritakan sosok KH Noer Ali ketika tumbuh kembangnya tidak luput dari masjid dan kedekatannya dengan Allah SWT beserta mahkluk-Nya.
 
"Bapaknya KH Noer Ali itu punya kedekatan spiritual yang luar biasa. Kehidupannya tidak jauh dari masjid dan sawah. Artinya lingkungan beliau ini sangat religius penuh dengan nilai-nilai bersumber dari masjid," jelasnya dalam Bincang Inspiratif di Radio Dakta, Jumat (16/8).
 
Ketua STAI At-Taqwa, K.H. Abid Marzuki
 
Ia mengatakan, sosok KH Noer Ali yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Attaqwa sedari kecil sangat mencintai ilmu. Beliau sangat rajin mengaji dari satu tempat ke tempat lainnya untuk belajar ilmu agama.
 
"Beliau belajar dari Ujung Harapan sampai ke Cipinang Muara. Semangat itu yang sering diabaikan, beliau yang mempunya karakter disiplin dan pekerja keras," ucap Ketua STAI At-Taqwa itu.
 
KH Noer Ali Hijrah ke Mekkah
 
Lebih lanjut, KH Abid menceritakan, saking cintanya dengan ilmu, KH Noer Ali yang dijuluki sebagai Singa Karawang-Bekasi sampai menuntut ilmu ke Mekkah pada usia 17 tahun.
 
Karena KH Noer Ali pandai memanfaatkan waktu, beliau tidak hanya menuntut ilmu tetapi beliau juga aktif di organisasi atau pergaulan yang melibatkan orang-orang internasional yang juga berkumpul di Mekkah.
 
"Jadi ketika di Mekkah, KH Noer Ali belajar politik dan organisasi sehingga mempunyai networking luas sekali, tidak aneh saat Indonesia merdeka pendukung pertama yang mengakuinya dari Timur Tengah," tuturnya.
 
Pria kelahiran Bekasi, 15 Juli 1914 itu kembali ke Indonesia pada usia 25 tahun setelah mengenyam pendidikan di Mekkah, kematangan organisasi dan ilmu yang mumpuni dimiliki oleh pahlawan asal Bekasi ini.
 
"Dari seorang kader masjid, KH Noer Ali mulai lah mengajar di masjid-masjid. Dan setelah kemerdekaan pada tahun 1945-1949, mulai lah kiprahnya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia," katanya.
 
Setelah Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka, bangsa ini masih dikepung oleh para sekutu. Beliau berkiprah dengan membentuk pasukan Hizbullah, yangb akhirnya, KH Noer Ali tampil angkat senjata mengobarkan semangat juang kepada masyarakat Bekasi.
 
Dengan bermarkas di Pakis Karawang, KH Noer Ali merancang strategi untuk memukul mundur pasukan sekutu dengan meminta saran dari Panglima Besar Jenderal Sudirman.
 
"Akhirnya muncullah peristiwa Rawa Gede dimana masyarakat diminta untuk menancapkan bendera merah putih sebanyak-banyaknya. Akibatnya, pasukan sekutu marah, kemudian dia membantai masyarakat disana," paparnya.
 
Karena  pembantaian itu, akhirnya menimbulkan tekanan dari delegasi internasional. Sehingga terjadilah negosiasi internasional yang menekan pasukan sekutu untuk keluar dari Indonesia.
 
Selain peristiwa itu, KH Noer Ali juga lah yang menggagas antara Jakarta Raya dipisah menjadi Bekasi dan meminta dikembalikannya Indonesia sebagai negara kesatuan.
 
KH Abid Marzuki menyimpulkan, agar anak-anak sebisa mungkin dan sedini mungkin diajarkan untuk belajar agama terlebih sholat ke masjid. Karena ulama-ulama besar lahir dari kader masjid yang hidupnya selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. **
 
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 444 Kali
Berita Terkait

0 Comments