Internasional / Afrika /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 22/07/2015 16:28 WIB

Aljazaer Kejar Kelompok Al Qaeda Pembunuh 9 Tentara

Mujahidin AQAP   Copy
Mujahidin AQAP Copy

MADRID_DAKTACOM: Perdana Menteri Aljazair Abdelmalek Sellal, Selasa, berjanji melakukan perburuan "tanpa henti" terhadap pembunuh yang menewaskan sedikitnya sembilan tentara yang tertangkap dalam sebuah penyergapan oleh kelompok Al Qaida cabang Afrika Utara.

"Akan ada pengejaran tanpa henti dari teroris ini," kata Sellal saat berkunjung ke Madrid, mengacu pada serangan pada Jumat (17/7) terhadap patroli militer di Djebel Louh di Provinsi Ain Defla, 140 kilometer (85 mil) barat daya dari ibu kota Aljir.

Ia menambahkan negaranya bertekad untuk memerangi terorisme, dalam pernyataannya yang diterjemahkan dari bahasa Arab dalam konferensi pers dengan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy.

Sellal menyampaikan jumlah tentara yang tewas sebanyak sembilan orang dalam sebuah serangan di awal libur Idul Fitri yang menandai akhir bulan puasa Ramadhan.

Al-Qaeda in the Maghreb Islam (AQIM) dalam sebuah pernyataan yang diunggah secara online mengaku telah membunuh 14 tentara. Pernyataan itu belum diverifikasi kebenarannya.

Sellal mengatakan Aljazair telah meningkatkan keamanan di sepanjang perbatasan negara yang mempunyai padang pasir luas itu, dalam upaya untuk memulihkan perdamaian dan ketenangan untuk semua warga negara.

Aljazair masih memikul dampak dari perang saudara yang brutal pada 1990-an antara negara dengan pemberontak Islam.

Sellal mengatakan negara yang kaya gas itu telah membuat kemajuan semenjak "menuju rekonsiliasi" dan bahwa pertanyaan yang berkaitan dengan ekstremisme bisa ditangani dengan tidak hanya lewat penggunaan kekuatan.

Serangan pada Jumat (17/7) lalu itu adalah yang paling mematikan terhadap angkatan bersenjata sejak April 2014 ketika 15 tentara tewas dalam penyergapan di pegunungan sebelah timur laut Aljazair.

AQIM yang berkembang dari Kelompok Salafist bagi Khutbah dan Perang (GSPC) Aljazair telah melakukan sejumlah serangan dan penculikan warga Barat di wilayah Sahel yang berada di utara dan barat Afrika dalam satu dasawarsa terakhir, demikian laporan AFP.

Editor :
Sumber : ANTARANews
- Dilihat 754 Kali
Berita Terkait

0 Comments