Program / Apa Kata Netizen /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 07/08/2019 14:45 WIB
#Apa Kata Netizen Eps 17

Polusi Punya Cerita, Belum Punya Solusi...

Ilustrasi: Aplikasi AirVisual
Ilustrasi: Aplikasi AirVisual

BEKASI, DAKTA.COM - Netizen, apakah anda merasakan beberapa pekan ini terlihat kabut atau embun yang menutup pandangan, ketika melihat gedung-gedung pencakar langit ibu kota? Warna langit lebih sering kelabu, padahal tidak mendung. Jika jawabannya ya, itu polusi udara!

Polusi udara di Jakarta menjadi pembahasan yang hangat belakangan ini. Salah satu situs yang menyediakan angka pengukuran kualitas udara, yakni AirVisual menunjukkan tingkat pencemaran udara di Jakarta sebulan terakhir, masuk kategori tidak sehat. Dari laman situs www.airvisual.com, pada kamis 1 agustus 2019 ini, Air Quality Index (AQI) Jakarta, berada di angka 135. Artinya, kualitas udara di Jakarta tidak sehat. Untuk diketahui, AirVisual merupakan situs penyedia peta polusi online harian kota-kota besar di dunia.

Selain jakarta, ternyata Kota bekasi juga mengalami polusi loh netizen, bahkan Pemerintah Kota Bekasi memetakan wilayah yang mengalami pencemaran udara cukup tinggi. Kepala bidang pengendalian pencemaran lingkungan, Dinas lingkungan hidup kota bekasi, Masriwati mengatakan, ada empat titik yang mengalami pencemaran debu, seperti di persimpangan Jalan Chairil Anwar dengan Jalan Joyomartono, Jalan Raya Narogong KM 12 atau depan Pasar Bantar Gebang, Jalan Kaliabang di persimpangan Kaliabang Bungur, dan Pasar Sumber Arta tepatnya di simpang Jalan Raya Kalimalang dengan Jalan Kincan.  

Lantas bagaimana Kualitas udara di Kota Bekasi? dalam keterangan AirVisual kualitas udara di Kota Bekasi menunjukkan angka 178. Merujuk pada angka tersebut level udara dikota Bekasi dikategorikan tidak sehat.

Menanggapi kabar viral polusi udara yang menutup gedung pencakar langit di ibu kota, warganet selama sepekan meramaikan akun fan page facebook @siaran radio dakta. Diantaranya pemilik akun facebook @maurina yang mengatakan, kualitas udara Jakarta asli udah gak ada sehatnya, pagi kemaren pas CFD bener-bener udah ke tutup sama kabut polusi.

Netizen lain memberikan opini, dari pemilik akun facebook @yamin_depok mengatakan, polusi disebabkan kendaraan yang menggunakan bahan bakar minyak. Seharusnya kesadaran masyarakat perlu di bangun lagi supaya mau beralih dari kendaraan pribadi menggunakan kendaraan umum.

Komentar lainnya bergabung melalui akun instagram @radio dakta, dari @bela_anggraini mengatakan, “Sedih juga sih sama kota Jakarta, walaupun saya kerja setiap hari mengendarai motor pakai masker tetep aja sesek rasanya.”

Lalu apa sebenarnya yang membuat polusi meningkat? Bisakah kita mencegah polusi?

Netizen, upaya apa saja ya, yang disiapkan Dinas lingkungan hidup DKI Jakarta untuk mengurangi polusi di wilayahnya. Kepala  Dinas lingkungan hidup DKI Jakarta, Andono wari mengatakan, pihaknya mengapresiasi info dari AirVisual mengenai data kualitas udara Jakarta. Namun, Andono menegaskan masyarakat juga perlu diberikan pemahaman yang tepat, agar tidak menimbulkan kepanikan. Pihaknya mengonfirmasi bahwa data yang disampaikan AirVisual tidak sepenuhnya akurat. Menurutnya, pengukuran kualitas udara hanya mengambil sample pada lokasi pemantauan dan pusat titik kemacetan tertentu saja. Seperti Gambir, dan komplek Kedutaan Amerika sekitar Patung Tani.

Andono mengatakan, setelah tanggal 25-26 Juni 2019 kualitas udara Jakarta membaik. Hal ini diketahui setelah DLH DKI melakukan pemantauan serupa. Ia menilai, alat ukur yang digunakan DLH DKI Jakarta sesuai dengan standard nasional Indonesia. Pihaknya menegaskan, untuk melakukan pemantauan kualitas udara harus menggunakan lokasi yang mewakili titik pemukiman dan daerah padat lalu lintas. Andono mengatakan, alat ukur kualitas udara milik DLH DKI Jakarta, saat ini beroperasi di tiga titik lokasi yakni, Jagakarta, bundaran HoteI Indonesia dan kelapa gading. Andono menyatakan, untuk cara pengukuran dan metode mengukur kualitas udara tersebut, DLH DKI Jakarta telah di verifikasi, kalibrasi dan diakui secara global serta secara tekhnis, metodelogi dan instrumennya Kredibel.

Selain itu, padamnya listrik pada Ahad (4/8) secara merata di Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, dan sebagian Jawa Tengah, ternyata cukup signifikan dalam memperbaiki kualitas udara di ibu kota. Berdasarkan informasi dari situs resmi www.airvisual.com, kualitas udara di DKI Jakarta menempati urutan ke-13 pada Selasa (6/8/2019). Informasi pada Selasa pukul 08.10 WIB, kualitas udara Jakarta tercatat 87 yang artinya berada dalam kategori moderat. Sementara itu, tercatat parameter PM2,5 konsentrasi 29,1 ug/m3 atau mikrogram/meterkubik berdasarkan US Air Quality Index (AQI) atau indeks kualitas udara.

Sebelumnya, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dodo Gunawan mengatakan, pemadaman listrik dengan membaiknya kualitas udara memang ada kaitannya. "Secara data saya tidak punya tapi dimungkinkan hubungan tersebut ada karena kan terkait juga dengan aktivitas manusia," ujar Dodo. Hal ini lantaran ketika listrik padam, aktivitas manusia yang menggunakan listrik maupun menghasilkan polusi menjadi berkurang.

Namun, dua hari usai listrik sepenuhnya pulih, Jakarta kembali ke jajaran atas kota dengan kadar  polusi udara tertinggi dunia. Berdasarkan situs pemantau kualitas udara airVisual.com yang dipantau pukul 08.49 WIB, Jakarta menduduki peringkat kedua atau berada di atas Hanoi, Vietnam. Namun ketika Dakta memantau sore ini melalui website yang sama, tepatnya pukul  14:32 WIB, Jakarta kembali pada kategori moderat dengan poin 85.

Ternyata polusi sangat mengganggu ya netizen, selain berdampak negatif terhadap suatu daerah, polusi juga mengancam kesehatan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu netizen, AirVisual merekomendasikan agar kelompok masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara, sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar ruangan, kalau pun harus bekerja di luar ruangan, pastikan selalu mengenakan masker anti polusi, seperti halnya masker N95.**

Editor : Andy Faizal
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 653 Kali
Berita Terkait

0 Comments