Nasional /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 15/05/2019 15:47 WIB

Mitos di Jembatan Kali Sewo

Pengemis berjejer di Jembatan Kali Sewo
Pengemis berjejer di Jembatan Kali Sewo
INDRAMAYU, DAKTA.COM - Pemudik yang melintas di Jembatan Kali Sewo, perbatasan antara Indramayu dan Kabupaten Subang di Jalur Pantura Jawa Barat agar berhati-hati karena akan berhadapan dengan ratusan pengemis yang berjejer di sekitar jembatan itu.
 
Pengemis yang semua memegang sapu lidi mengamati kendaraan yang lewat, terutama mobil pribadi maupun kendaraan umum.
 
Mereka berdiri berjejer di pinggir jalan sepanjang hampir 500 meter, terdiri dari anak-anak, remaja bahkan sampai nenek-nenek. 
 
Setiap mobil yang bergerak perlahan, terutama mobil pribadi, akan didekati sambil memberikan aba-aba meminta sesuatu.
 
Pengemis meminta uang dari para pelintas, sapu tersebut digunakan untuk mengais uang logam yang dilemparkan oleh penumpang dari jendela mobil.
 

Salah satu warga sekitar Irwan (21) mengatakan tradisi melemparkan uang saat pengendara melewati Jembatan Kali Sewo sudah berlangsung lama.
 
"Menurut mitos, pengendara mobil yang akan melewati Jembatan Kali Sewo memberikan sesuatu dan biasanya dalam bentuk uang agar tidak diganggu oleh mahluk halus penunggu jembatan, agar aman dan bebas dari kecelakaan," ungkap Irwan saat ditemui Tim Ekspedidi Mudik Dakta 2019, Senin (14/5).
 
Ia menyampaikan, kebiasaan yang hanya dilakukan segelintir orang itu berubah menjadi tradisi dan dilakukan setiap hari, sehingga menjadi penghasilan sampingan warga sekitar yang sebagian besar adalah petani.
 
Khusus musim mudik Lebaran, jumlah pengemis mencapai ratusan dan tidak hanya dilakukan pada siang hari, tapi hampir 24 jam.
 
Irwan menyebut saat musim mudik penghasilan warga yang menjadi pengemis dua kali lipat yang mencapai 150 ribu setiap hari.
 
Tradisi tersebut tampaknya sulit untuk dilarang meski berbahaya karena pengemis yang terlalu sibuk menyapu uang recehan sehingga bisa-bisa tertabrak oleh kendaraan yang melintas.
 
Pihak kepolisian setempat maupun pemerintah daerah sempat melarang adanya aktivitas tersebut, tetapi tetap saja warga melakukannya dengan dalih sudah tradisi bertahun-tahun. **
Reporter : Ardi Mahardika
Editor : Asiyah Afifah
- Dilihat 277 Kali
Berita Terkait

0 Comments