Opini /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 15/05/2019 11:30 WIB

KH Mas Mansyur di Mata Keluarga

Ilustrasi Keluarga
Ilustrasi Keluarga
DAKTA.COM - Oleh: M. Arsyad Arifi (Koordinator Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Republik Yaman)
 
Ketika mendengar nama KH Mas Mansyur yang terbayang adalah sesosok pahlawan dan guru bangsa yang memiliki peranan penting demi kemerdekaan Indonesia. Sebagai sesosok yang bergelar "Pahlawan Nasional" tentunya tak sedikit prestasi yang diukir untuk menggugah bangsa. 
 
Kini kita juga dapat merasakan kedamaian dan ketentraman dari ancaman musuh negara melalui TNI yang dulu beliau prakarsai berdirinya melalui PETA (Pusat Tenaga Rakyat)
 
Bersama HOS Cokroaminoto beliau berjuang demi kemerdekaan Indonesia dan membela keadilan dengan wadah Sarekat Islam. Setelahnya ikut memprakarsai MIAI (Majelis Islam A'la Indonesia) dan kembali memperjuangkan keadilan berwadah Masyumi.
 
Beliau adalah kader Muhammadiyah yang mewakafkan dirinya untuk kepentingan agama dan tanah air. Maka dari tenaga, pikiran, dan waktunya tercurahkan untuk umat. Lantas, bagaimana kehidupan pribadinya?
 
KH. Mas Mansyur adalah sesosok guru bangsa sekaligus guru rumah tangga. Beliau adalah panutan bagi istri dan anak-anaknya. Sepulang dari Mesir dan Makkah untuk ngangsu kawruh pada tahun 1915, beliau menikah dengan putri Haji Arif, yaitu Siti Zakiyah yang tinggalnya tidak jauh dari rumahnya.
 
Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu Nafiah, Ainurrafiq, Aminah, Muhammad Nuh, Ibrahim, dan Luk luk. Selain menikah dengan Siti Zakiyah, beliau juga menikah dengan Halimah dan menjalani hidup bersamanya dalam jangka relatif singkat, yakni dua tahun, karena pada tahun 1939, Halimah meninggal dunia.
 
Beberapa kenangan tentang beliau dan keluarga menurut Soebagijo I.N. dalam bukunya _KH Mas Mansyur Pembaharu Islam di Indonesia setidaknya ada tiga. Pertama, Beliau adalah sosok suami yang pandai bergaul dengan istrinya. Di dalam rumah tangganya beliau adalah suami yang amat patut diherani. Sudah berpuluh tahun dan sudah banyak anaknya namun kepada istrinya terus serupa orang yang baru setahun bergaul. Sikap ini mencerminkan pribadi Rasulullah SAW yang senantiasa menyayangi isterinya kapanpun.
 
Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada Aisyah pada Hadits yang panjang mengenai Ummu Zar`: “Aku dan dirimu bagaikan Abu Zar` dan Ummu Zar`.” Maksudnya: Aku dan kamu seperti mereka berdua dalam hal cinta dan kesetiaan. Lalu Aisyah berkomentar, “Sungguh Engkau lebih baik bagiku dari Abu Zar` dan Ummu Zar`.” (HR. Bukhari, Muslim). Inilah contoh kemesraan hubungan Rasulullah dengan isterinya yang tetap “mengherankan” sepanjang usia.
 
Kedua, amat sayang kepada anaknya. Beliau adalah seorang ayah yang amat menyayangi anaknya sampai-sampai anaknya yang bernama Oen Arrafiq yang telah berusia 20 tahun, kerapkali masih diajak berjalan berdua dan bergandengan tangan. Akhlak ini juga tercermin dari kemuliaan akhlak Rasulullah SAW kepada anak-anaknya.
 
Karena kecintaan Rasulullah SAW kepada putrinya, yakni Fathimah, apabila pulang dari safar, beliau masuk masjid lalu shalat dua rekaat kemudian mendatangi Fathimah baru kemudian mendatangi istri-istri beliau.
 
Telah diceritakan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah ra berkata “Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam berbicara melebihi Fathimah, apabila dia masuk menemui Nabi, maka Nabi berdiri untuk menyambutnya dan menciumnya serta melapangkan tempatnya. Begitu pula sebaliknya perlakuan Fathimah terhadap Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi  dan al-Hakim)
 
Sungguh Rasulullah SAW telah menggambarkan kecintaannya kepada putri beliau yang mulia tatkala beliau berkhutbah di mimbar:
 
“Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku dan barangsiapa yang mengganggunya berarti dia mengganggu diriku.” (HR Bukhari)
 
Ketiga, totalitas untuk keluarga. Walaupun bagaimana berat pekerjaan di kantor Hoofdbestuur Muhammadiyah, kalau pukul 12.00 siang lekas beliau pulang. Sampai di rumah ditanggalkannya bajunya dan tidur berbaring sambil diletakkannya cucunya yang masih "cilik" di atas dadanya. Demikian Rasululullah selalu totalitas dalam menyayangi keluarganya. Baik menyayangi anak-anaknya, maupun cucu-cucunya. 
 
Suatu ketika Rasulullah mencium cucunya, Hasan, anak Fatimah, di depan sekelompok orang Badui. Mereka terkejut, dan salah seorang di antara mereka, yaitu Aqra bin Habis, memperlihatkan keterkejutannya dan berkata: “Aku punya sepuluh anak dan aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka!” Nabi kemudian menjawab, “Orang yang tidak dermawan [mencintai, mengasihi], Tuhan tidak dermawan kepadanya” (HR Bukhari-Muslim).
 
Kepada isterinya pun sangat romantis, Sayyidah Aisyah berkata: “Pernah aku minum, sedangkan aku pada saat itu sedang haid. Kemudian aku memberikan minuman tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari bejana yang sama, dimana beliau menempelkan mulutnya persis ditempat bekas aku minum, lalu beliau minum…” (H.R. Muslim)
 
Inilah bagian kecil dari kehidupan pribadi KH Mas Mansyur yang menjadi suri tauladan bagi kita semua. Tak lain dan tak bukan, beliau juga ittiba’ dengan kehidupan dan rumah tangga Rasulullah SAW.
 
Maka dari marilah kita senantiasa mempelajari, merenungi, dan meniru apa yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW dan ulama segaligus pendiri bangsa ini mulai dari diri kita sendiri, lalu tularkan ke keluarga dan masyarakat. Wallahua’lam bishawab
 
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : M. Arsyad Arifi
- Dilihat 270 Kali
Berita Terkait

0 Comments