Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 12/05/2019 13:58 WIB

Apa Kata Netizen: Solidaritas di Dunia Maya, Bukan Solidaritas Semu

Ilustrasi sosial media
Ilustrasi sosial media

DAKTA.COM - Pada awal April 2019 lalu, ramai menjadi perbincangan di media sosial tentang, Audrey (bukan nama sebenarnya), seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat, yang isunya dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA. Akibat pengeroyokan siswi 14 tahun ini mengalami trauma dan kini masih dirawat di sebuah rumah sakit. Dugaan sementara pemicu pengeroyokan adalah masalah asmara dan saling komentar di media sosial.

 

Tagar#JusticeForAudrey menjadi trending topik di Twitter netizen, selain tagar tersebut, yang paling mengejutkan adalah petisi di laman change.org telah ditandatangani lebih dari 1,8 juta warganet. Isi dari petisi ini yaitu, mendesak agar Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) membela korban penganiayaan tersebut.

 

Petisi dimulai oleh Fachira Anindy dengan judul: KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey! Bahkan tagar #JusticeForAudrey juga sempat menjadi trending dunia di media sosial Twitter. Dalam petisi tersebut dikutip pernyataan Wakil Ketua KPPAD Kalimantan Barat Tumbur Manalu di media mengenai seorang siswi SMP dengan inisial AY korban penganiayaan sejumlah orang pada Jumat, 29 Maret 2019.

 

Dalam petisi tersebut juga menceritakan korban penganiayaan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit swasta di Pontianak. Korban mengalami trauma fisik dan psikologis.

 

Korban juga mendapat rujukan untuk menjalani rontgen tengkorak kepala dan dada. Saat penganiayaan terjadi, kepala korban dibenturkan di aspal dan ia mendapat penyerangan di bagian dada.

 

Namun, beberapa hari kemudian sejumlah fakta terbaru terungkap: salah satunya adalah hasil visum korban yang diungkap polisi pada Rabu 10 April 2019 silam. Kapolresta Pontianak, Kombes Anwar Nasir mengumumkan hasil visum Audrey yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Pro Medika.

 

Hasilnya, kondisi kepala korban tidak ada bengkak atau benjolan, mata juga tidak ada memar dan penglihatan normal. Kemudian telinga, hidung dan tenggorokan (THT) tidak ditemukan darah. Dia lalu mengungkapkan hasil visum pada organ intim korban yang sebelumnya sempat dikabarkan dirusak pelaku.

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa informasi yang beredar di awal atau pertama kali mencuat tentang perundungan tersebut di dunia maya ternyata tidak semuanya benar. Dukungan masyarakat terhadap korban, memang nyata adanya. Namun, fakta terhadap kasus ini ternyata banyak yang tidak nyata.

 

Ini sebenarnya bisa menjadi pembelajaran bagi kita sebagai netizen (masyarakat pengguna media sosial), bahwa informasi dari dunia maya butuh literasi digital yang mendalam agar respon terhadap sebuah isu juga tepat sesuai dengan porsi sebuah informasi.**(Izal)

 

Editor : Dakta Administrator
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 510 Kali
Berita Terkait

0 Comments