Catatan Akhir Pekan /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 12/05/2019 11:57 WIB

Political Disruption

Ilustrasi demokrasi
Ilustrasi demokrasi

DAKTA.COM - Oleh: Doni Riw – Penggiat Media Sosial

Dunia bisnis sudah merasakan lebih dahulu dampak era disruption.

Era disruption adalah suatu era perubahan di level pondasi, yang akhirnya meruntuhkan bangunan lawas di atasnya. Bayangkan saja, suatu bangunan mapan yang tiba-tiba diubah bentuk pondasinya. Tentu runtuhlah apa yang sudah mapan di atasnya.

Contoh paling awal adalah industri jualan copy musik. Perubahan media simpan dari pita kaset ke digital mp3 adalah perubahan fundamental dalam bisnis copy music. Sifat mudah copy and share dari data mp3 menyebabkan terjerembabnya sebagian besar musisi & publisher.

Contoh klasik yang lain adalah fenomena ojek dan taksi online. Bentuk mapan bisnis taksi, dulu, adalah memiliki banyak armada sendiri, punya pool, punya sopir, dan punya tempat mangkal. Ketika hidup belum digital-digital amat, bangunan bisnis semacam itu sukses besar. Tetapi ketika semua calon penumpang dan semua calon sopir memegang benda ajaib bernama smartphone, maka fundamental bisnis taksi berubah mendadak.

Dampaknya, runtuhlah perusahaan taksi besar yang memiliki ribuan armada dan sopir. Digeser oleh satu perusahaan baru yang sama sekali berbeda secara fundamental; taksi online. Di era disruption ini, institusi-institusi besar yang merasa sudah sempurna dengan formula yang mereka punya, adalah pihak yang paling rentan hancur.

Pihak-pihak yang merasa bahwa formulanya hari ini adalah "Harga Mati" yang tak bisa ditawar lagi, adalah pihak yang paling mudah runtuh. Selamat datang di era perubahan di level akar. Selemat datang di era radikal. Siaga perubahan fundamental atau terjungkal.

Utopia yang Jadi Nyata

Tiga tahun yang lalu, Mas GoBlek mengajak Lik Telmi membuat sebuah perusahaan taksi.

Lik Telmi bertanya; "Modal apa yang kau punya? Berapa mobil kau miliki? Punya garasi berapa hektar?

Mas GoBlek menjawab; "Aku tak punya itu semua. Modalku hanya smartphone saja"

Lik Telmi tertawa guling-guling. "Kamu utopis Blek. Mending kamu daftar kerja saja di perusahaan taksi Pak Glue Berd. Belajar dari sana cara membuat persahaan taksi raksasa."

Tiga tahun kemudian, Lik Telmi kejang-kejang. Karena Pak Glue Berd tekuk lutut di hadapan Mas GoBlek yang hanya modal smartphone.
Ternyata Utopia Mas GoBlek jadi nyata tanpa harus mengikuti jejak Pak Glue Berd.

Bahkan kalau menuruti saran Lik Telmi, yakin sampai kapanpun Mas GoBlek takkan mampu menaklukkan perusahaan besar Pak Glue Berd.

Di dunia politik, ada kejadian serupa. Mas Har mengajak masyarakat menerapkan syariat sebagai hukum negara. Lik Telmi bilang pada Mas Har; "Kamu Utopis Har. Harusnya kamu ikut pemilu. Jadi anggota dewan. Terus perjuangkan syariat di sana."

Tapi Mas Har tetap pada pendirian, yaitu berpolitik tanpa kekerasan di luar parlemen. Boro-boro sukses memperjuangkan syariat. Di parlemen, Mas Har ibarat masuk perangkap canggih. Sekali manipulasi, langsung mati dijebak isu korupsi.

Orang-orang seperti Mas GoBlek dan Mas Har mampu melihat hingga ke akar persoalan, radikal. Mereka menggerakkan hal-hal paling fundamental untuk membangun Utopianya menjadi Nyata. Apa yang fundamental dan mampu membuat utopia menjadi nyata itu?

Distorsi Kehendak

Kunci kejayaan bisnis taksi online atas taksi konvensional bukan pada sistem online-nya. Tapi karena kesuksesan menyambungkan kehendak penumpang dan driver secara direct. Sedangkan smartphone hanya sekedar alat saja yang memungkinkan semua itu bisa terjadi.

Direct penumpang - driver inilah yang tidak dimiliki oleh taksi konvensional. Di dalam sistem taksi konvensional, pertemuan kehendak itu harus melalui birokrasi rumit yang akhirnya hi cost.

Ketika si hi cost berhadapan dengan si efisien, maka tumbanglah si hi cost. Politik tak ubahnya sistem itu. Kehendak rakyat akan mengendalikan kehendak penguasa. Di dalam sistem demokrasi, kehendak rakyat itu harus melalui jalur birokrasi yang rumit.

Dalam pilpres contohnya. Pilihan rakyat mau tak mau harus terbatasi pada calon yang dipilih partai. Begitu juga pileg. Kehendak rakyat harus melewati sistem perwakilan yang hampir pasti mendistorsi kehendak asli.

Seperti halnya taksi konvensional yang tekuk lutut pada taksi online, karena direct kehendak, maka demikian pula dalam sistem politik. Kehendak rakyat yang terdistorsi akibat birokrasi ruwet demokrasi, akan tekuk lutut di hadapan pengendalian kehendak secara direct. Kehendak rakyat atas jalannya kekuasaan tak melulu harus melalui birokrasi demokrasi.

Seperti halnya kehendak penumpang yang tak harus melalui sistem birokrasi boros taksi konvensional. Pengarahan kehendak rakyat extra parlemen ini sama persis dengan pengarahan kehendak penumpang extra birokrasi taksi konvensional. Terakhir yang menarik adalah; keduanya menjadi mungkin terjadi dengan alat yang sama; digital, online, dan smartphone.

Selamat datang era revolusi 4.0. Selamat datang era disrupsi bisnis & politik. Selamat datang kemungkinan baru yang melesat jauh di atas prasangka anda yang terkungkung pola lama. Pilihannya dua; berselencar di atas gelombang, atau tergulung perubahan zaman. **

 

Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Doni Riw
- Dilihat 883 Kali
Berita Terkait

0 Comments