Catatan Akhir Pekan /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 28/07/2019 13:26 WIB

Amil, Ilmu, dan Amal

Ilustrasi buku gudangnya ilmu
Ilustrasi buku gudangnya ilmu

DAKTA.COM - Oleh: Nana Sudiana, Sekjend FOZ & Direksi IZI

"Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati." (Emha Ainun Najib).

Amil idealnya adalah orang yang berilmu tinggi dan amalnya banyak. Namun, bila ini yang dijadikan parameter saat mencari sosok amil, dipastikan kita akan kecewa. Faktanya amil-amil yang ada saat ini, relatif muda usianya dan secara umum, ilmu dan kemampuannya belum bisa disebut matang. Apalagi dari sisi keteladanan amalnya.

Bagi amil, sebagaimana seorang muslim pada umumnya, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban. Ini berlaku bagi amil laki-laki ataupun perempuan.

Dalam sejumlah uraian ulama, sering dikatakan bahwa menuntut ilmu juga suatu ibadah wajib yang tidak ada sunnahnya seperti ibadah yang lainnya. Menjadi amil yang pintar, jelas diharapkan semua lembaga zakat. Pastilah terbayang oleh mereka jika semua amilnya pintar-pintar pasti akan mudah mencari solusi atas masalah yang bermunculan, baik di internal maupun eksternal organisasi.

Bila kita bicara ilmu, sebagaimana disampaikan Khalifah Umar Bin Khattab, ternyata ada tiga tahapan ketika seseorang menuntut ilmu. "Ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya”.

Hal ini rupanya berlaku juga bagi para amil di dunia zakat. Mereka yang baru bergabung menjadi amil dan belum lama belajar apa saja ilmu terkait perzakatan, bisa jadi terjangkit tahapan belajar seperti yang Khalifah Umar katakan tadi. Mereka masih merasa hebat dan bahkan sombong.

Hal ini kadang dipicu tumbuhnya perasaan diri lebih dari yang lain dan tahu banyak semua hal yang belum lama diajarkan. Saat yang sama, muncul pula godaan untuk menganggap semua ketinggalan ilmunya, kuno dan tak tahu perkembangan terkini.

Sombong yang mewujud ini barangkali pada awalnya tak terasa benihnya. Ia tumbuh perlahan dan membakar kesadaran bahwa semua orang pada dasarnya tak boleh direndahkan, apalagi diremehkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Shallallahu ‘alaihi wa salllam:

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim).

Selanjutnya, setelah seseorang memasuki tahap kesombongan, ia akan masuk ke tahap tawadhu'. Tahap ini merupakan tahapan kedua dalam menuntut Ilmu. Setelah kesombongan demi kesombongan yang ia tampakan, bisa jadi akhirnya ia terkena dampaknya sendiri. Ibarat peribahasa, "menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri."

Peribahasa ini bermakna bahwa bila kita berbuat sesuatu yang jahat atau sombong, perkara itu akan terkena kembali kepada kita sendiri. Apa pun yang dilakukan untuk menutupi diri agar tampak tinggi dan mulia dari orang lain akhirnya justru bisa berakhir dengan sesuatu perbuatan yang memalukan nama baik sendiri. 

Ketawadhu'an ini tumbuh berkebalikan dengan sifat sombong. Bila sombong menjadi dominan dalam hati seseorang, maka rasa tawadhu' mengecil proporsinya. Sebaliknya, bila rasa tawadhu ini semakin besar, maka sikap sombong perlahan menyusut.

Semakin seseorang banyak belajar, maka semakin ia memiliki kesadaran bahwa ternyata masih banyak hal yang belum ia ketahui. Dan karena dorongan inilah akhirnya membuat seseorang jadi lebih tawadhu’.

Seperti padi, semakin banyak memiliki ilmu, semakin merunduk. Begitu banyak ilmu yang diserap, maka berguguranlah rasa sombong yang ada di hati, bahkan dia lebih merendahkan hatinya terhadap orang lain.

Tahap ketiga, ketika seseorang menuntut ilmu ternyata semakin merasa tidak ada apa-apanya. Ia semakin merasa kecil. Hal ini terjadi karena di tahap ini dia merasa ilmu itu seperti lautan yang begitu luas. Ketika dia mendapat satu ilmu, maka di dalam dirinya akan merasa kurang, dia haus akan ilmu, dan bahkan mengabdikan seluruh hidupnya untuk terus belajar dan belajar meraih ilmu sebanyak-banyaknya.

Amil yang Ilmuwan

Ilmu Allah sesungguhnya demikian luas. Ia laksana samudera tak bertepi. Bila pun ilmu Allah di ibaratkan lapisan langit, ternyata lapisan langit ini demikian banyak jumlahnya.

Seseorang dengan ketinggian langit ilmunya, ternyata belum tentu merupakan lalisan langit yang paling atas. Ada orang-orang lainnya yang di lapis atas, atasnya lagi dan lagi. Masih ada langit di atas lapis langit. Di atas itu semua ada Dzat yang Maha Mengetahui. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui".(Qs. Yusuf: 76).

Para amil dan penuntut ilmu idealnya memiliki kesadaran akan manfaat atas ilmu yang dipelajarinya. Manfaat inilah yang mendorong amil tak tinggal diam dalam lingkaran ilmu yang dikuasainya. Ia harus bergerak dan terus bergerak memaksimalkan kemanfaatan ilmunya bagi banyak orang.

Ilmu yang terus dibagi tak akan pernah habis. Ibarat mata air, justru bila terus menerus digunakan akan memperlancar alirannya dan membuang sisa-sisa genangan yang mungkin justru bisa membusuk.

Untuk itulah bagi orang berilmu, Allah akan angkat derajatnya baik itu di dunia maupun di akhirat. Dan umumnya orang berilmu, amil yang berilmu juga umumnya akan memiliki ketinggian, akhlaq dalam keseharian hidupnya.

Seorang amil yang ilmuwan, akan semakin bagus akhlaq yang dimilikinya serta memiliki kecerdasan dan kekuatan ketika menghadapi dinamika kehidupannya sebagai seorang amil. “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Terkait penghargaan akan amil yang ilmuwan, seharusnya organisasi pengelola zakat memiliki komitmen untuk menambah ia betah (kerasan) dan terus mengembangkan dan memperluas ilmunya. OPZ harus menciptakan lingkungan kerja amil yang seperti ini menjadi rumah indah dan lapang bagi tersebarnya ilmu dan kebaikan bagi organisasinya. Pada amil-amil yang ilmuwan juga, berikan kesempatan mereka untuk menyiapkan ilmu-ilmu yang dimilikinya agar bisa terus diperdalam, dikembangkan dan disebarluaskan.

Lalu menunjang kemajuan amil yang ilmuwan ini melakasanakan tugas-tugas peradaban ini, ada beberapa hal yang harus disiapkan organisasi yaitu: peningkatan penguasaan bahasa (terutama arab), pendidikan dan pelatihan secara intensif, dukungan nyata untuk peningkatan penelitian, serta, perintisan dan pengembangan jejaring internasional. Pertama, peningkatan penguasaan bahasa (terutama arab). Sebagai bahasa Ibu bagi umat islam di seluruh dunia, bahasa Arab wajib dikuasi oleh seorang muslim yang ingin menyelami keilmuan Islam dengan baik.

Tanpa kemampuan bahasa ibu ini, kita bisa jadi hanya akan menemui kulit-kulit kelimuan Islam saja, dan butuh waktu yang panjang untuk sampai pemahaman utuh ilmu-ilmu keislaman dan khasanah peradaban Islam yang pernah jaya dan diakui dunia. Islam sejak awal-awal masa pertumbuhannya, punya dukungan luar biasa untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Dengan kemampuan bahasa yang semakin baik dan beragam, bukan tidak mungkin nantinya para amil yang ilmuwan bisa mengembalikan kemudahan komunikasi pada dunia, serta mengajak pada kesamaan agenda-agenda dalam mengelola dan mendayagunakan zakat pada seluruh warga dunia. Kalau hari ini kita melihat dan merasakan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata seolah lebih pesat berkembang di dunia barat, berarti ada PR besar bagi dunia Islam agar ilmu-ilmu dan pengetahuan peradaban ini bisa diraih pula oleh Umat Islam.

Amil juga perlu terus didorong untuk belajar lebih tinggi dan lebih luas, baik secara formal melalui pendidikan di perguruan tinggi, mulai jenjang S1, S2 dan hingga S3. Juga didorong menempuh pendidikan non formal bersertifikat.

Nantinya, bukan tidak mungkin, pencapaian-demi pencapaian ilmu pengetahuan dan peradaban ini akan menguatkan Umat Islam sebagai umat yang pantas mewarisi bumi beserta isinya dengan adil dan harmoni. Melalui pengembangan ilmu yang jelas sumber dan nalarnya ini, spirit zakat akan lebih tersebar luas, bukan hanya di kalangan muzaki, mustahik dan masyarakat luas, namun juga ditengah para akademisi dan intelektual.

Kedua, pendidikan dan pelatihan secara intensif. Pendidikan dan pelatihan secara intensif ini penting didorong oleh OPZ agar iklim akademik bisa tercipta di lingkungan kerja para amil. Lingkungan keilmuan dan akademik yang baik akan mendorong tradisi ilmiah, rasionalitas dan nalar tinggi dalam memecahkan berbagai masalah yang ada. Walaupun lingkungan kerja amil ini bukan kampus atau tempat diklat, setidaknya nuansa kelimiahan tetap harus ada dan menjadi spirit untuk agar amil bersemangat untuk terus belajar dan belajar.

Para amil yang terus belajar dan akhirnya menjadi ilmuwan-ilmuwan baru dari dunia zakat, harus diberikan penghormatan lebih dan penghargaan agar mereka merasa nyaman dan mendapatkan hal yang sepadan dengan jerih payahnya belajar selama ini. Para amil yang Ilmuwan harus pula mendapatkan perhatian yang besar dari OPZ. Termasuk perhatian ini adalah dalam soal kebutuhan kehidupannya.

OPZ harusnya memenuhi dengan layak amil yang ilmuwan, mulai kebutuhan finansial bulanan hingga soal uang pensiunnya kelak ketika sampai masanya. Kebijakan ini harus diambil supaya mereka bisa mencurahkan waktu sepenuhnya untuk kegiatan mengajar, membimbing, menulis, dan meneliti.

Spirit pendidikan pun tak boleh hanya berhenti pada soal penguatan dan peningkatan kapasitas personal secara temporer saja, perlu juga ditumbuhkan semacam akademi-akademi, observatorium atau pusat kajian dan penelitian yang didukung dengan perpustakaan yang memadai dan lengkap sehingga bisa lebih optimal dalam pengembangannya. Perpustakaan ini penting posisinya bagi sumbangan kemampuan ilmu dan peradaban amil bagi dunia.

Ketiga, dukungan nyata untuk peningkatan penelitian. Para amil yang ilmuwan juga didorong untuk terus menggali, meneliti dan menemukan inovasi-inovasi pengelolaan zakat bagi kehidupan. Amil yang ilmuwan perlu didorong untuk melakukan penelitian di berbagai bidang.

Salah satu contohnya adalah riset tentang efektivitas pemberdayaan bagi kalangan petani dan nelayan. Nantinya, sangat dimungkinkan penelitian yang dilakukan bisa menemukan dan menghasilkan konsep-konsep kemudahan, kecepatan dan ksederhanaan proses pemberdayaan bagi mustahik di sektor yang sama, tetapi di tempat berbeda atau bagi mustahik lainnya dengan pendekatan berbeda. Daya dukung OPZ untuk melakukan penelitian ini akan membuat dunia perzakatan semakin baik dan kondusif bagi masa depannya ditengah perubahan yang terjadi.

Keempat, perintisan dan pengembangan jejaring internasional. Kita semua tahu, bahwa jejaring internasional ini menjadi ukuran penting sebuah OPZ. Ia juga saat yang sama menguji sejauhmana tingkat komunikasi yang dilakukan sebuah OPZ. Jaringan internasional, akan sangat efektif meningkatkan kemampuan internal lembaga dan meyulapnya menjadi sarana belajar ditengah situasi yang terjadi.

Seorang amil wajib memiliki ilmu. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia akan bisa melakukan dengan benar beragam perbuatan wajib, menjauhi perbuatan haram, kemaksiatan dan melaksanakan amalan-amalan sunnah. Ilmu juga menjadi landasan seorang amil untuk melaksanakan kewajiban seorang amil dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dilakukan dalam syariat zakat.

Itulah sebabnya, mencari ilmu bagi seorang amil adalah sebuah kewajiban. Tidak boleh dipandang sebelah mata, diremehkan atau tidak diacuhkan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam:

“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.”(HR. Ibnu Majah).

Mengapa wajib? Imam Abdullah menjawab, “Dengan ilmu kita bisa mengetahui bahwa yang wajib adalah wajib, yang sunnah adalah sunnah, yang haram adalah haram. Tidah hanya itu, selain mengetahui hukum tiap perbuatan, seseorang dapat menunaikan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah Subhanahu Wata’ala dengan sebaik-baiknya, karena didasari ilmu.”

Dengan demikian, apapun dan bagaimanapun amal atau perbuatan yang akan dilakukan seorang amil dia wajib mencari dan mengamalkan ilmunya sebagai amil terlebih dahulu. Menuntut ilmu mungkin belum akan memuaskan kehidupan seorang amil yang ingin berbuat banyak di lembaga-lembaga zakat. Namun ketidakpuasan ini justru akan menjadi hal yang positif, karena dengan perasaan haus akan ilmu yang terus ada ini, seorang  amil akan terus belajar dan menyempurnakan ilmunya.

Pentingnya mencari ilmu bagi seorang amil tercermin dalam analogi mengendarai kendaraan. Seorang amil yang hendak mengendarai kendaraannya haruslah memiliki kecakapan, meliputi cakap dalam memahami masing-masing fungsi dalam kendaraan, mengetahui rambu-rambu lalu-lintas, sehingga bisa mengendarai dengan aman dan selamat. Aman untuk dirinya dan aman untuk orang lain. Tidak sampai menyelakakan diri sendiri lebih-lebih diri orang lain.

Demikian halnya dengan ilmu seputar amil zakat. Seorang amil wajib melengkapi diri dengan berbagai ilmu dasar dan pengembangannya, sebelum ia benar-benar menjadi amil yang sukses. Dalam kemampuannya berperan sebagai amil, seseorang harus juga melibatkan hatinya dalam bekerja sebagai amil.

Mengapa sampai harus melibatkan hati segala? Ini tak lain soal kesungguhan. Bekerja tanpa hati, berarti setengah hati. Tak ada ruh, apalagi spirit berjuang bila hanya setengah hati. Padahal sepenuh hati saja ketika bekerja, bisa jadi hasilnya belum sesuai apa yang diharapkan.

Amal seorang amil harus berdasar ilmu, agar tak salah ketika bekerja sebagai amil. Tanpa ilmu sebagai amil yang memadai, dikhawatirkan ia salah saat menjadi amil, salah dalam melaksanakan amal-amal nyata di dunia perzakatan. Bila tanpa ilmu yang cukup juga, seorang amil bisa saja terjerumus dalam kesalahan fatal.

Ia misalnya hanya hanya menduga-duga dalam melakukan perbuatan sebagai amil. Ia menduga telah melakukan pemberdayaan zakat, padahal justru ia sedang "melestarikan" kemiskinan. Ia menduga telah mendorong para mustahik untuk mandiri hidupnya, padahal ia sedang menciptakan ketergantungan akut akan nasib dan masa depan kelompok-kelompok mustahik.

Saat yang sama, bila tak cukup ilmu dan keterampilan soal amil ini, seseorang yang berperan menjadi amil bisa saja menyangka ia sedang berbuat kebaikan, padahal bisa saja justru ia sedang mengibarkan kemaksiatan. Dugaan-dugaan yang dikembangkan selama tanpa dasar ilmu yang kuat, hanya akan mengantarkan pada terciptanya masalah baru, yang bisa saja malah lebih parah dari sebelumnya.

Amil tanpa ilmu yang memadai, berisiko menjadi pelopor keruntuhan izzah dunia zakat di mata masyarakat. Karena itu, sepanjang seseorang berada di dunia amil, ia harus terus belajar dan belajar. Tak henti dan tak boleh mengenal lelah dan bosan. Perkembangan-perkembangan zakat dan dunia amil terbaru harus terus diikuti dan dipelajari, tanpa sanggahan alasan sibuk atau sudah tua. Apalagi sudah tahu.

Selama hayat masih dikandung badan maka seorang amil wajib mencari ilmu  dan terus belajar. Kesibukan yang melelahkan, atau usia yang tak lagi muda bukan halangan. Tidak ada alasan yang bisa menjadi alat membenarkan sikap seorang amil untuk lalai mencari ilmu.

Karena seorang amil yang malas, bisa membahayakan dunia zakat. Amil yang malas, akan membuat bahaya karena ia akan bekerja tanpa tanpa Ilmu. Dan seorang amil yang beramal tanpa ilmu akan lebih banyak menuai mudharat daripada manfaat.

Manfaatnya sedikit justru mudharatnya lebih banyak. Itulah kenyataan yang akan dihadapi oleh setiap amil tanpa ilmu. Bisa-bisa nol besar atau malah munus. Tidak ada nilainya apa-apa bagi dunia zakat dan kebaikan umat.

Dari semua uraian tadi, tak cukup hanya punya niat baik untuk jadi seorang amil yang amanah. Ia juga harus punya ilmu yang cukup dan semangat belajar yang tinggi.

Seorang amil pada dasarnya pilar kebaikan umat, bila pilarnya salah dan tak punya kemampuan yang didukung ilmu, maka bisa berisiko menghancurkan bangunan. Bisa jadi nantinya, akan ada amil yang memandang bahwa dirinya melakukan suatu ketaatan padahal sedang bermaksiat.

Memandang suatu kemaksiatan bukan sebagai kemaksiatan jelas berbahaya bagi kebaikan umat. Lebih berbahaya lagi, bila ternyata amil ini ditunggu kiprahnya oleh banyak orang yang membutuhkan, malah ia berbuat kemaksiatan karena ketiadaan ilmu didalam dirinya.

Jelas kini, amil harus punya ilmu sebelum beramal sebagai amil. Hal ini tak lain agar semua amal-nya amil senantiasa sesuai tuntunan yang ada dan berdampak positif bagi banyak orang yang memerlukan. Dengan ilmu yang cukup, seorang amil bisa jadi pelita bagi kegelapan kehidupan dhuafa. Dengan ilmu yang cukup, seorang amil bisa berdiri tegak, menjadi pilar tertunaikannya amanah zakat bagi mereka yang membutuhkannya.

Dengan ilmu yang cukup, semoga kelak ketika seorang amil meninggal dunia, seluruh jama'ah shalat janazah yang ikut mensholatkannya akan bersaksi dengan sungguh-sungguh bahwa amil ini adalah orang baik. Orang baik yang didoakan mereka agar Allah ampuni dosa dan kesalahannya dan diberikan kelapangan di alam kuburnya. Agar si mayyit ini juga kelak menghadap Allah dengan amal sholeh-nya yang akan ia gunakan untuk menjadi pemberat di timbangannya saat yaumul jaza'.

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Nana Sudian
- Dilihat 266 Kali
Berita Terkait

0 Comments