Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 09/05/2019 14:37 WIB

Apa Kata Netizen: Pekan Penuh Isu Kebobrokan Moralitas

Ilustrasi pelecehan seksual
Ilustrasi pelecehan seksual
DAKTA.COM - Media sosial pekan terakhir di bulan April lalu kita dikejutkan dengan dua kabar pelecehan seksual yang tidak tegas hukumannya. Kabar pertama Pencabulan terhadap anak selama tiga tahun dibebaskan hakim Pengadilan Negeri Cibinong, meskipun dalam persidangan, pelaku mengakui perbuatannya dan hasil visum menyatakan hal itu benar. Kasus kedua pelecehan seksual terjadi pada penumpang kereta api jurusan Jakarta – Surabaya, berikut ulasannya.
 
Pelecehan seksual dapat berlangsung di mana saja. Seperti di tempat kerja, kampus, jalan, toko, bahkan saat menggunakan angkutan umum, bandara, dan juga di rumah. Pada dasarnya, pelecehan seksual adalah perhatian seksual yang tidak diinginkan. 
 
Contoh kasus seperti yang menimpa dua kakak beradik Joni (14) yang merupakan penyandang disabilitas intelektual dan Jeni (7). Joni dan Jeni bukan nama sebenarnya. Kasus kekerasan seksual ini, terjadi selama tiga tahun dan dilakukan oleh tetangga Joni dan Jeni yakni HI (41). Namun setelah HI mengakui perbuatannya, dan terbukti lewat hasil visum, hakim malah memvonis HI bebas, dengan alasan tidak ada yang melihat atau saksi kedua anak tersebut dilecehkan. Ada apa dengan hukum kita?  
 
Respon Pemerintah
 
Mahkamah Agung (MA) telah menjatuhkan sanksi pada tiga hakim Pengadilan Negeri Cibinong yang memvonis bebas kepada pelaku pemerkosaan terhadap dua anak di bawah umur. Ketiga hakim itu berinisial MAA, CG, dan RAR. Abdullah mengatakan, ketiga hakim itu disanksi lantaran vonis bebas yang dijatuhkan pada terdakwa kasus pemerkosaan dua anak di bawah umur mengundang perhatian dan reaksi keras dari masyarakat.
 
Netizen, memberikan komentar via instagram @radiodakta, dengan akun @manan.abdul01 yang mengatakan, pelaku harusnya digantung, kenapa malah dibebaskan. 
 
Komentar lainnya juga datang dari akun Facebook @Jamaludin Al Fijar yang mengatakan, bahwa dirinya penasaran, dan bagaimana kalo ada Maling ngerampok tidak ketahuan, tetapi malingnya mengaku dan ada korban yang dirugikan. Apakah tetap dibebaskan? 
 
Netizen lainnya, ibu ayu kesal, karena hakim membebaskan pelaku pelecehan pada anak, tersebut. 
 
Pelecehan Seksual di Kereta Jarak Jauh Antar Kota
 
Kasus Pelecehan seksual lainnya, dialami oleh BN mahasiswi asal Jakarta yang dilecehkan oleh penumpang lain didalam kereta saat menuju Surabaya. Dalam perjalanan BN dilecehkan oleh penumpang berinisial AR saat sedang tidur. 
 
Diketahui, sebelum tidur BN sempat diajak mengobrol panjang oleh pelaku mulai dari profesi, keluarga dan hubungan asmara. Selesai berbincang, BN pun tertidur. Sesaat setelah diperlakukan tidak pantas, BN terdiam karena ketakutan dan berusaha cari pertolongan lewat sosial media. Lalu temannya menelfon minta dirinya melapor ke satpam.
 
Akhirnya BN memberanikan diri untuk melapor ke Kondektur kereta, selanjutnya BN dan pelaku dipertemukan oleh petugas kereta untuk melakukan mediasi. Namun, alih-alih mendengarkan keluhan BN petugas kereta justru menyalahkan pakaian BN. Kasus berakhir secara kekeluargaan namun BN merasa tidak terima dengan perilaku petugas KAI tersebut. 
 
Kejadian tersebut terjadi pada Selasa, 23 April 2019 sekitar pukul 02.00 WIB atau 30 menit setelah KA Sembrani melewati Stasiun Semarang Tawang, Penumpang Tersebut melaporkan penumpang di sebelahnya yang telah melakukan pelecehan kepada dirinya saat sedang tertidur.
 
Menanggapai hal tersebut VP Public Relations KAI Edy Kuswoyo mengimbau dan mengingatkan para penumpang agar tetap waspada selama dalam perjalanan baik dengan barang-barang bawaan serta perilaku penumpang di sekitar. Dia menjelaskan Penumpang dapat melaporkan kepada Contact Center KAI121 di 121/021-121 atau menghubungi Kondektur KA tersebut yang nomor teleponnya tertera di masing-masing kereta.
 
Terkait pelecehan di kereta tersebut, warganet memberikan beragam komentar diantaranya @Radiayanto mengatakan, pakaian menentukan kemanan apabila diluar rumah. hendaknya wanita tidak menampakkan auratnya sehingga mengundang nafsu lain jenis.
 
Melalui fanspage Facebook Siaran Radio Dakta, netizen @amalianur berkometar Hukum mati saja pelaku, agar seperti negara Brunei, Pelaku pelecehan seksual, perzinahan, LGBT, perempuan hamil diluar nikah dengan sengaja, harusdihukum mati. Warganet lainnya Hardiki menceritakan pengalamannya ketika menggunakan Kereta api jarak jauh, berikut tanggapan hardiki.
 
Netizen, Pelecehan seksual adalah tindakan seksual yang tidak diinginkan, menyebabkan pelanggaran dan ketidaknyamanan, dan dapat (dalam beberapa situasi) berbahaya secara fisik dan mental. 
 
Korban dapat merasa terintimidasi, tidak nyaman, malu, atau terancam. Saat ini bisa dibilang Negara kita sedang mengalami Degradasi moral dan banyak faktor yg melatarbelakanginya, pendidikan, lingkungan, sosial, dan dunia digital di era modern ini. Semoga hukum di negeri ini juga tetap berjalan sebagaimana mestinya ya netizen. Agar pelaku kejahatan tetap mendapat hukuman yang setimpal agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya. **
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 743 Kali
Berita Terkait

0 Comments