Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 25/07/2019 08:47 WIB

E-Marketing di Era Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi e-marketing
Ilustrasi e-marketing
BEKASI, DAKTA.COM - Masyarakat menggiring perubahan drastis di masa Industri 4.0 ini. Jika dahulu hanya memanfaatkan komputer dan internet untuk berkomunikasi saja, kini di masa Industri 4.0 komputer dan internet telah menjadi bagian dari seluruh aspek kehidupan manusia sehari-hari, mulai dari berkomunikasi, bekerja, belajar, berbelanja, hiburan, dan lain sebagainya. 
 
Perubahan-perubahan yang diakibatkan Industri 4.0 pada dunia industri dan perubahan perilaku konsumen telah memaksa terjadinya perubahan pada dunia pemasaran juga.
 
Indonesia merupakan pasar dengan pertumbuhan e-commerce yang menarik dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2014, Euromonitor mencatat, penjualan online di Indonesia sudah mencapai US$1,1 miliar. Data sensus Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebut, industri e-commerce Indonesia dalam 10 tahun terakhir meningkat hingga 17 % dengan total jumlah usaha e-commerce mencapai 26,2 juta unit. 
 
Pada tahun 2018, e-commerce di Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan sangat pesat, dan diperkirakan akan terus meningkat seiring berkembangnya jumlah pengusaha dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di tanah air.
 
Dosen Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi, Tri Elsa Susilawati, S.E., M.B.A mengatakan potensi besar industri e-commerce di Indonesia juga dipengaruhi oleh gaya belanja online, terutama oleh generasi milenial. 
 
"Generasi milenial sangat suka mencari perbandingan harga, fitur, program promo, dan kualitas produk di beberapa e-commerce sebelum memutuskan membeli sebuah barang. Para milenial juga tidak segan untuk merekomendasikan e-commerce atau toko online favorit mereka kepada teman-temannya," katanya dalam Bincang Pendidikan di Radio Dakta, Rabu (24/7).
 
Meski demikian, produk-produk asal Indonesia yang dijual di platform e-commerce masih di bawah 10 persen sehingga menjadi tantangan bersama agar membuat digital ekonomi dan e-commerce Indonesia tidak sebatas market saja.
 
Dosen di Fakultas Ekonomi Unisma Bekasi, Tri Elsa Susilawati, S.E., M.B.A
 
Untuk mencapai itu, upaya-upaya dukungan pemerintah terhadap perkembangan e-commerce antara lain tertuang dalam Perpres No. 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce). Peta ini bertujuan mendorong percepatan dan pengembangan sistem perdagangan nasional berbasis elektronik (e-Commerce), usaha pemula (startup), pengembangan usaha dan percepatan logistik.
 
"Keuntungan adanya penggunaan e-marketing ini bagi perusahaan diantanya mampu menjangkau berbagai konsumen, target konsumennya telah terbagi ke dalam kelompok, proses penjualan langsung dari produsen ke pengguna tanpa harus melewati jalur distribusi klasik, dan masih banyak lagi," ucapnya.
 
 
Untuk menangkap peluang di era revolusi industri 4.0, pemerintah menargetkan perdagangan e-commerce pada 2020 bisa mencapai US$ 130 miliar. Target itu bisa tercapai mengingat besarnya potensi pasar di Indonesia yang mencapai 250 juta lebih merupakan pasar yang menggiurkan.
 
Meskipun terdapat peningkatan pertumbuhan pemasaran digital yang cukup signifikan, tetapi bukan berarti pertumbuhan pemasaran digital tidak mengalami kendala di Indonesia. 
 
"Tantangan utama pelaku pemasaran Indonesia adalah terbatasnya dana, kemampuan, serta adanya jurang pemisah dalam ketersediaan sumber daya. Tantangan lain datang dari sisi pengiklan, yakni tentang kurangnya pemahaman soal tujuan pemasaran digital," jelasnya. **
 
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 283 Kali
Berita Terkait

0 Comments