Opini /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 23/07/2019 13:09 WIB

Benarkah Rekrut Rektor dan Dosen Asing Bisa Memacu Pendidikan?

Ilustrasi dosen asing
Ilustrasi dosen asing
DAKTA.COM - Oleh: Sururum Marfuah Hash (Mahasiswa Institut Pertanian Bogor)
 
Presiden Joko Widodo dalam pertemuannya bersama dengan 100 seniman dan musisi di Istana Bogor menyampaikan idenya untuk merekrut tenaga kerja asing sebagai rektor perguruan tinggi dalam negeri dan juga dosen. Adapun alasan ingin dilaksanakannya ide ini karena Indonesia butuh mengejar ketertinggalan dari negara lain.
 
Ada kesalahan berpikir dimana ketika seorang pemimpin memberikan solusi instan tetapi tidak mempertimbangkan efek dari kebijakan tersebut. Tentunya ide ini menerima penolakan, terlebih karena alasan yang tidak masuk akal yang justru terkesan “memaksakan” keadaan.
 
Jika kita telisik lebih dalam lagi, maka akan kita dapati bahwa impor rektor dan dosen ini merupakan konsekuensi keanggotaan Indonesia di WTO dimana negara dijerat karena harus mengadopsi hasil perjanjian internasional termasuk diantaranya adalah aspek jasa yang juga dijadikan sebagai komoditas perdagangan.   
 
Fenomena keinginan pemerintah ini mengingatkan kita pada masa lalu buruk, yakni ketika Indonesia sedang heboh-hebohnya menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) yang menjadi celah bagi tenaga kerja asing agar dengan mudah bekerja di Indonesia, alasannya tidak jauh berbeda dengan keinginan untuk mengimpor dosen asing, yaitu untuk memberikan ruang kompetitif kepada tenaga kerja lokal agar mampu bersaing dalam kancah internasional, padahal kondisi tenaga kerja lokal saat itu belum siap. Akibatnya bukan main, angka pengangguran menjadi bertambah.
 
Apabila keinginan dari mengimpor rektor dan dosen adalah untuk memacu pendidikan, maka hal yang seharusnya dilakukan bukan justru mengimpor, melainkan mengembangkan sumber daya manusia yang ada. Negara perlu memfasilitasi dosen lokal agar mampu mengajar dengan kompeten dan maksimal.
 
Berdasarkan data yang dilansir oleh Katadata.co.id yang bersumber dari Unesco Institute for Statistics mencatat bahwa dana riset atau dana penelitian dan pengembangan (R&D) Indonesia termasuk negara yang porsi dana R&D nya rendah dibandingkan dengan negara Asia lain. 
 
Hal ini tidak bisa luput dari perhatian, yang ketika pendidik dalam suatu institusi sudah sulit dalam mengembankan inovasinya maka hal tersebut tentu juga akan berpengaruh terhadap kualitas pendidikan.
 
Adapun alasan agar menaikkan peringkat perguruan tinggi di kancah internasional perlu juga dikritisi karena standar dari peringkat tersebut apabila ditelaah maka sedang menekankan pada “publikasi jurnal” yang perlu kita tanya kembali, untuk siapa sebenarnya jurnal tersebut? Apakah benar untuk negara ini? Atau justru jurnal tersebut adalah bahan agar semakin memajukan negara yang maju?
 
Pendidikan yang merupakan hak segala bangsa juga tidak bisa hanya distandarkan pada berapa banyak inovasi dan publikasi ilmiah yang dihasilkan, kemudian dijadikan alasan petahana untuk melakukan internasionalisasi institusi kampus, negara juga perlu mengevaluasi apakah benar output dari pendidikan telah mampu memperbaiki peradaban ini atau justru menjadi kecerdasan yang membahayakan negeri ini.
 
Bukankah yang menjadi koruptor itu cerdas? Namun kecerdasannnya justru digunakan untuk memakan jerih payah rakyat. Bukankah yang mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia itu cerdas? Namun kecerdasannya justru digunakan untuk merusak bumi karena ekploitasi yang diluar batas. 
 
Bukankah yang menciptakan game kekerasan  itu cerdas? Namun dengan kecerdasannya, diajarkanlah generasi ini perlahan merusak akal dan menghabiskan waktunya pada sesuatu yang tidak berguna. 
 
Dari sini kita perlu kembali merenung, apakah benar negeri kita telah berdaulat dalam SDM? Atau justru bukan sumber daya manusianya yang tidak berdaulat namun negara yang telah terjebak pada sistem komersialisasi sehingga semua tidak ubahnya hanyalah bernilai materil, termasuk pada pendidikan.
 
Lalu, masihkah kita percaya bahwa pendidikan di negeri ini baik-baik saja?
 
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Sururum Marfuah Hash
- Dilihat 712 Kali
Berita Terkait

0 Comments