Program / Ensiklopedia Islam /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 17/07/2019 16:56 WIB

Eksistensi Jahiliyyah

Metropolitan
Metropolitan

BEKASI, DAKTA.COM - Kata jahiliyyah berasal dari kata al-jahlu yang maknanya adalah kebodohan atau tidak adanya ilmu (‘adamul ma’rifah). Kata jahiliyyah awalnya merujuk pada situasi dan kondisi bangsa Arab sebelum kedatangan Islam; mereka tidak mengenal al-khaliq dengan benar, tidak tahu bagaimana beribadah kepada Allah SWT, serta tidak mengenal syariat atau pedoman hidup yang sebenarnya.

Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya ikatan Islam itu hanyalah akan terurai satu per satu apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui perkara jahiliyyah.”

Ungkapan Umar di atas adalah peringatan bagi umat Islam sepanjang zaman agar mewaspadai kejahiliyyahan yang dapat memusnahkan agama. Kita hendaknya memahami dan mengenal apa itu jahiliyyah agar mampu menjaga agama ini dari hal-hal yang dapat merusaknya cepat atau lambat.

Namun jahiliyyah juga bisa berupa sifat yang ada pada seseorang yang sudah memeluk Islam. Perilaku menyimpang dari syariat seperti meratapi mayit, menghina dan berbangga-bangga dengan nasab, pertikaian karena fanatisme golongan, tabarruj, atau perilaku-perilaku buruk lainnya disebut oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  dengan ungkapan jahiliyyah.

Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Meratapi mayit termasuk tradisi jahiliyah.” (HR. Ibn Majah)

Dalam riwayat lain, dari Abu Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

“Ada empat kebiasaan umatku yang merupakan tradisi jahiliyah, yang tidak akan mereka tinggalkan: menyombongkan nasab, mencela orang karena nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratap.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Wallahu 'alam Bishawab

Editor : Andy Faizal
Sumber : Tarbawiyah.com
- Dilihat 300 Kali
Berita Terkait

0 Comments