Nasional / Hukum dan Kriminal /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 11/04/2019 13:21 WIB

Kasus Audrey, Momentum Revisi UU Peradilan Anak

kak seto
kak seto
BEKASI, DAKTA.COM - Kasus pengeroyokan siswi SMP di Pontianak yang dialami oleh Audrey (14) mendapatkan kecaman dari berbagai pihak.
 
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi mengatakan jika dilihat dari sisi psikologis, kasus Audrey ini perlu adanya pendekatan psikologis secara profesional. 
 
"Karena sering kali kita hanya sibuk dengan pelaku, tetapi mengabaikan dalam penanganan korban. Untuk itu pemerintah daerah harus berupaya agar korban mendapatkan hak tumbuh kembangnya kembali," katanya yang akrab disapa Kak Seto saat diwawancarai bersama Radio Dakta, Kamis (11/4).
 
Menurut Kak Seto, kasus Audrey ini adalah momentum untuk merevisi kembali Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) karena pada kenyataannya hukum tidak berjalan.
 
"Momentum ini bisa untuk mengkoreksi kembali undang-undang itu. Sehingga jangan sampai terkesan usia anak 17 tahun dan berbuat salah dapat dimaafkan. Sebetulnya usia remaja sudah bisa dituntut pertanggungjawaban," ucapnya.
 
Ia juga menyesalkan sikap beberapa orang yang memposting identitas korban. Karena itu akan menimbulkan permasalahan baru.
 
"Itu memungkinkan ada perundangan lagi kepada korban jika ada pihak yang tidak suka. Jadi mohon untuk tidak menyebarkan identitasadanya," jelasnya.
 
Ia juga menekankan kepada semua pihak khususnya pendidik agar tidak hanya mengedepankan aspek akademik saja tetapi juga menjalankan ajaran-ajaran keagamaan.
 
"kita semua harus kembali mengutamakan pendidikan etika kepada para siswa, karena tingkat penilaian bukan sekedar prestasi tapi juga bagaimana tingkah laku sehari-hari yang perilaku penuh persahabatan saling menghormati," pungkasnya. **
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 308 Kali
Berita Terkait

0 Comments