Nasional / Hukum dan Kriminal /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 10/04/2019 10:30 WIB

Pengeroyokan Siswi di Pontianak, AILA: Korban dan Pelaku Perlu Bimbingan Konseling

JusticeForAudrey
JusticeForAudrey
JAKARTA, DAKTA.COM - Audrey, seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat, dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA. Akibat pengeroyokan itu, siswi 14 tahun ini mengalami trauma dan kini masih dirawat di sebuah rumah sakit. Dugaan sementara pemicu pengeroyokan adalah masalah asmara dan saling komentar di media sosial
 
Kasus Audrey sempat menjadi salah satu topik terpopuler dunia di twitter, dengan tagar #JusticeForAudrey. Pengeroyokan terhadap Audrey terjadi pada Jumat, 29 Maret 2019. Namun orang tuanya baru melaporkan ke Polsek Pontianak Selatan satu pekan kemudian atau pada Jumat, 5 April 2019.
 
Terkait kasus tersebut, sebagai organisasi yang peduli pada keluarga Indonesia, AILA Indonesia menyatakan keprihatinan yang sedalam-dalamnya kepada korban kejahatan kesusilaan dan korban kekerasan pada anak dan mengecam keras para pelakunya.
 
Ketua AILA Indonesia, Rita Hendrawati Subagio meminta pemerintah melalui KPAI dapat melakukan konseling baik pada para korban ataupun pelaku, mengingat usia mereka yang masih di bawah umur maka perlu adanya bimbingan konseling bagi keduanya. Saat ini AILA Indonesia sedang melakukan kerjasama dengan elemen terkait di Pontianak untuk terus memantau kasus ini. 
 
"Mengingat usia korban dan para pelaku yang masih di bawah umur, kami mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menyebarkan identitas pribadi korban baik nama, foto diri dan sebagainya, selain itu identitas pribadi para pelaku seperti foto, nama, media sosial," kata Rita kepada Dakta, Rabu (10/3).
 
Penganiayaan terhadap seorang remaja putri di Pontianak, yang dianiaya oleh teman-teman remaja putri lainnya. Para pelaku bisa dikenakan pasal 353 ayat (1) dan (2)  pasal 354 ayat (1), pasal 355 ayat (1) KUHP tentang tindak penganiayaan berat terencana dan atau Pasal 76C UU Perlindungan Anak. 
 
AILA Indonesia berharap kasus-kasus kekerasan pada anak dan kejahatan kesusilaan seperti perkosaan, tidak dipolitisasi untuk tujuan-tujuan tertentu, dengan menganggap tidak ada delik hukum yang dapat menjerat pelaku kejahatan tersebut. 
 
Sementara itu, dengan berbagai bentuk kekerasan pada anak dan kejahatan kesusilaan yang terjadi, AILA Indonesia mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk melakukan pendidikan dengan sungguh-sungguh, mempererat hubungan antar anggota keluarganya dan mempertebal keimanan agar tidak terjerumus pada pengaruh yang mendorong pada tindak kejahatan. **
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 456 Kali
Berita Terkait

0 Comments