Galeri Dakta /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 24/03/2019 13:48 WIB

Taklim 27 Milad Dakta, Mencerdaskan Bangsa Mencerahkan Umat

Aktivis Dakwah Neno Warisman dalam Taklim Kolosal Radio Dakta
Aktivis Dakwah Neno Warisman dalam Taklim Kolosal Radio Dakta

BEKASI, DAKTA.COM - Radio Dakta menyelenggarakan Taklim Kolosal dalam rangka milad ke-27 tahun di Aula Majelis Taklim Radio Dakta di Jalan Agus Salim Nomor 77 Bekasi Timur, Ahad (24/3).

Kali ini mengambil tema 'Mencerdaskan Bangsa dan  Mencerahkan Umat' dan menghadirkan narasumber Aktivis Dakwah, Neno Warisman dan Ketua Pembina Tim Pengacara Muslim, Muhammad Mahendradatta.

Dalam pemaparannya, Neno Warisman menyampaikan untuk mencerdaskan bangsa dimulai dari keluarga, yaitu peran perempuan dalam mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang berkualitas secara Islami.

"Tugas utama perempuan itu mendidik anak-anak, mendoakan suami, dan menyayangi keluarga dengan ekstra. Setelah itu perempuan juga harus berjuang dalam berdakwah," ucapnya.

Apalagi, ia mengatakan, menurut penelitian pada tahun 2018 ini bahwa hampir sebagian otak anak-anak mengalami penciutan yang berdampak pada perilakunya.

"Terbukti dengan adanya pemberitaan ada anak perempuan pelajar SMK memukuli anak SMP. Padahal itu terlihat tidak mungkin anak perempuan berperilaku begitu, tetapi sekarang menjadi mungkin," katanya.

Hal itu terjadi karena banyak anak yang sudah kecanduan games, pornografi, dan tayangan yang tidak mendidik.

"Maka dari itu, kita sebagai orang tua butuh kepastian hukum yang mampu melindungi anak-anak dari konten negatif itu," ujarnya.

Selain itu, katanya, sebagai seorang Muslim, harus saling mengingatkan dan semakin mempererat ukhuwah sehingga tidak mudah untuk digoyangkan.

 

Ketua Pembina Tim Pengacara Muslim, Muhammad Mahendradatta


Sementara itu, Ketua Pembina Tim Pengacara Muslim, Muhammad Mahendradatta menyinggung terkait hukum di Indonesia.

"Kondisi hukum kita sekarang ini seperti hukum jalanan, siapa kuat dia yang menang," ujarnya.

Apalagi, menurutnya, saat ini opini yang salah kemudian digembar-gemborkan bisa menjadi isu yang besar dan dianggap benar.

"Misalnya kasus Ustadz Abu Bakar Ba'asyir yang dibangun seolah-olah sebagai teroris hebat, padahal memegang pistol saja beliau terbalik. Itulah kepandaian opini yang dibentuk," terangnya.

Ia mengaku, semenjak ada Undang-undang ITE, masyarakat seperti dibungkam. Bahkan, kalau ingin posting di media sosial harus sangat berhati-hati.

"Seharusnya, UU ITE hanya menjerat penipuan menggunakan teknologi. Tetapi ternyata bisa menjerat mereka yang salah dalam bermedia sosial," ucapnya.

Ia menegaskan, dalam bermedia sosial tidak perlu berhadapan dengan aparat penegak hukum.

"Kita memang perlu memperbaiki diri dalam bersosmed. Pemerintah seharusnya bisa melakukan pencegahan dengan sosialisasi bukan langsung penindakan," pungkasnya.

Taklim Kolosal Radio Dakta diikuti ratusan masyarakat, mereka terlihat antusias mengikuti kegiatan tersenut. Acara ini disponsori oleh Khasanah Sari Bakery, Muslim Madani Collection, Nibras House Bekasi, Alfamidi, Tazkia, Bandar Djakarta, Al-Kautsar, Hottin Cream. **

 
Editor : Dakta Administrator
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 212 Kali
Berita Terkait

0 Comments