Nasional / Lingkungan Hidup /
Follow daktacom Like Like
Senin, 18/03/2019 13:32 WIB

Banjir Bandang di Papua, Akibat Pemerintah Abai Terhadap Lingkungan

Banjir bandang di Papua
Banjir bandang di Papua
JAKARTA, DAKTA.COM - Perubahan iklim global sedang melanda dan mengancam keberlanjutan kehidupan manusia dan species dimanapun di dunia, termasuk di Tanah Papua. Laporan Panel Perubahan iklim pada Jumat (8/10/2018), menyatakan bahwa tahun 2017 Perubahan Iklim telah mencapai 1 derajad celcius dan akan terus melaju hingga melebihi target ambang batas (1,5 derajad celsius), jika manusia belum merubah pola hidup dengan mengabaikan lingkungan. 
 
Direktur, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Papua, Aiesh Rumbekwan mengatakan, salah satu penyebab terjadinya perubahan iklim adalah deforestasi, kerusakan dan hilangnya tutupan hutan, dikarenakan perubahan alih fungsi hutan dan eskploitasi sumberdaya alam, seperti usaha perkebunan, pembalakan kayu, pertambangan, dan penggunaan energi kotor.
 
Aktivitas yang membahayakan manusia dan spesies ini ditimbulkan dari kebijakan negara dan kepentingan kelompok orang tertentu untuk memanfaatkan kekayaan alam secara tidak bijaksana dan tidak adil.
 
"Dampak ekstrim dari perubahan iklim adalah terjadinya kelangkaan air, kekeringan yang ekstrim atau sebaliknya terjadi curah hujan yang tinggi hingga terjadi banjir besar. Dampak penting lainnya, meningkatnya konflik antara masyarakat dengan perusahaan dan pemerintah, pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia), meningkatnya konflik antara masyarakat dan satwa," katanya dalam keterangan persnya, Senin (18/3). 
 
Menurutnya, saat ini Papua terdampak dari adanya perubahan iklim dengan peristiwa banjir di beberapa daerah di Jayapura, Nabire, dan Merauke. Peristiwa banjir bandang terjadi di Sentani, Kabupaten Jayapura, mengakibatkan korban jiwa meninggal lebih dari 70 orang, korban hilang puluhan orang, terjadi kerugian harta benda dan ribuan penduduk mengungsi, serta membawa dampak terhadap ekosistem setempat. Dampak tersebut pada gilirannya menjadi bencana bagi manusia.
 
"Kami memandang peristiwa banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua pada Jumat (15/3/2019) bukan peristiwa alam biasa, melainkan dan diduga adanya para pihak yang tanpa sadar bahkan sengaja  mengabaikan lingkungan dengan alih fungsi lahan dan pembalakan untuk berbagai kepentingan. Dugaan ini ditandai dengan jumlah dan jenis kayu yang terbawa banjir serta dugaan lain adalah 17 tahun hilangnya tutupan pohon di wilayah Cagar Alam Cyclops," paparnya.  
 
Banjir Bandang yang terjadi saat ini adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari karena dugaan ulah manusia dan kebijakan negara. Hilangnya tutupan pohon, memiliki hubungan dengan kurangnya perhatian para pihak terhadap lingkungan hidup. 
 
Karenanya Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura, segera meninjau dan mengkaji perencanaan pembangunan dan  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Kabupaten Jayapura, dengan melibatkan seluas-luasnya masyarakat yang potensial terkena dampak langsung. 
 
"Pemerintah dan berbagai pihak seharusnya mengarusutamakan isu lingkungan hidup dalam berbagai perencanaan pembangunan, mengembangkan kebijakan dan praktik pemanfaatan penggunaan lahan untuk pemukiman, perkebunan, pembalakan kayu dan usaha ekonomi masyarakat, secara lestari dan berkeadilan," jelasnya. 
 
Walhi Papua mengingatkan dan mendesak pemerintah saat ini agar segera mengambil langkah mitigasi dan adaptasi untuk mengantisipasi bencana susulan atau yang bakal terjadi dikemudian hari. Sebab bencana seperti ini sudah pernah terjadi. 
 
"Bencana saat ini memperlihatkan para pihak tidak sangat peduli menjaga dan memelihara lingkungan bahkan sebaliknya telah merubah fungsi pokok lingkungan pada lokasi tertentu di seputar Cagar Alam Cyclops, serta kurang tegasnya atau oleh pemerintah adanya pembiaran terhadap para pihak yang dengan sengaja melakukan perubahan fungsi hutan," ucapnya.
 
Walhi Papua menghimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar ikut melestarikan dan melindungi lingkungan sehingga dapat terhindar dari ancaman perubahan iklim global – pemanasan global dan bencana banjir bandang yang meningkatkan kerugian yang sulit dipertanggungjawabkan oleh setiap kita. **
Reporter : Elnoordiansyah
Editor : Asiyah Afifah
- Dilihat 966 Kali
Berita Terkait

0 Comments