Opini /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 01/03/2019 14:27 WIB

Blackpink 20 Tahun Lagi dan Ancaman Degenerasi

Masyarakat Korea Selatan
Masyarakat Korea Selatan

DAKTA.COM - Oleh : Triana Arinda Harlis, ST (Narasumber Kajian Muslimah MQ Lovers Bekasi)

 

Blackpink 20 tahun lagi, nama itu bukan identik dengan noona-noona cantik asal Korea Selatan berbaju mini yang bersuara merdu dan bergoyang gemulai melainkan grup kucing peliharaan berbulu hitam dengan kostum berwarna pink yang telah dilatih bergaya dan berlenggak lenggok di depan kamera. Apa pasal?

 

Hewan Peliharaan Pengganti Keturunan

 

Industri hewan peliharaan Korea Selatan sedang naik daun. Meningkatnya industri ini  bukan karena trend spesies hewan peliharaan baru. Pesatnya peningkatan permintaan hewan peliharaan lebih karena enggannya pasangan di Korea untuk memiliki anak. Demikianlah analisa Kim Soo-kyung, manajer Samjong KPMG Economic Research Institute (ERI).

 

Tingginya biaya pendidikan dan perumahan serta hari kerja yang sangat panjang menjadi salah satu faktornya keengganan pasutri Korea memiliki anak. Hal ini berkontribusi pada rendahnya angka kelahiran Korea hingga memecahkan rekor terendah di dunia yaitu 1,05 kelahiran per perempuan. Pada waktu yang sama, angka peningkatan keluarga yang memiliki hewan peliharaan mencapai 28%.

 

Tekanan sosial di Korea Selatan menuntut para orangtua untuk menyediakan kebutuhan anak yang semakin mahal selama beberapa dekade. Daripada khawatir tak dapat membesarkan anak dengan baik, pasangan Korea lebih memilih untuk menghabiskan sekitar 100.000 won atau sekitar Rp 1,25 juta per bulan untuk anjing peliharaan mereka. Selain mahalnya biaya pendidikan, data dari Bank KB Kookmin menunjukkan rata-rata orang Korea Selatan harus menganggarkan uang setara sekitar 12,8 tahun pendapatan untuk membeli rumah kelas menengah. (liputan6.com, 25/01/2019)

 

Parahnya lagi, keinginan menikah pemuda Korea menurun drastis. Korean Herald memaparkan rata-rata umur orang Korea memutuskan menikah kian menua. Tahun 1996, pria memutuskan menikah pada usia 28,4 tahun dan perempuan berusia 25,5 tahun. Satu dekade setelahnya, tahun 2016, rata-rata usia pernikahan untuk pria menjadi 32,8 tahun dan untuk perempuan 30,1 tahun. (tirto.id, 21/01/2019)

 

Apa kabar dengan noona dan oppa yang wajahnya berseliweran di drama-drama produk gelegar badai Hallyu gandrungan remaja? 20 tahun lagi, mereka akan menjadi bagian dari komunitas lansia yang memadati wilayah Korea. Mereka akan menjadi bagian dari sepertiga lebih penduduk Korea Selatan dengan predikat generasi tua yang membebani penduduk usia produktif di negaranya. 

 

Negara Korban Sadisnya Tata Hidup Sekuler

 

Korea hanya salah satu korban negara yang digerogoti sadisnya tata kehidupan materialistik berorientasi duniawi ala sekuler liberal. Sistem yang memuja kebebasan, mengupayakan segala hal untuk meraih tujuan artifisial. Ketenaran salah satunya yang tercermin dari bagaimana maraknya operasi plastik sebagai tuntutan ideal wajah layak muncul di layar kaca. Kejamnya industri hiburan mereka hingga pemilihan pasangan dalam pernikahan sangat dipengaruhi oleh komentar fans.

 

Sistem ekonomi ribawi ala kapitalisme meniscayakan peredaran uang hanya dinikmati segelintir konglomerat. Jumlah pengangguran di Korea Selatan sepanjang 2018 mencapai angka tertinggi selama delapan tahun terakhir. Tingkat pengangguran naik dari 3,8 persen menjadi 4,2 persen pada Juli 2018. (republika.co.id, 13/9/2019). Kesulitan hidup dan mahalnya kebutuhan membuat penduduk enggan menikah dan memiliki anak. Korea di ambang degenerasi akut.

 

Lebih dari itu, persoalan ideologis yang meliputi permikiran kesetaraan gender dan emansipasi, mengobrak-abrik tata peran suami istri dalam rumah tangga yang telah mengakar. Ide feminis yang radikal mendorong malasnya perempuan berperan besar dalam urusan kerumahtanggan dan tanggung jawab merawat dan mengasuh keturunan.

 

Peradaban Islam Tak Pernah Alami Ancaman Degenerasi

 

Problem degenerasi akibat minimnya pernikahan dan rendahnya kelahiran tidak pernah dialami oleh peradaban Islam. Islam mendorong pemuda yang telah memiliki kemampuan untuk segera menikah. Allah memuji keluarga yang memiliki banyak keturunan. Allah meyakinkan manusia agar mereka bertawakkal atas rizki yang pasti dijamin untuk setiap nyawa. Tak boleh ada keraguan akan hal itu bahkan di masa paceklik sekalipun.

 

Pernikahan bukan hanya soal individu memilih pasangan dan berketurunan secara legal. Bagi peradaban Islam, Negara mengambil peran mengokohkan kualitas keluarga sebagai lingkungan benih penerus peradaban, Negara dalam Islam wajib menciptakan kondisi penunjang kehidupan yang kondusif untuk hal itu.

 

Sejarah mencatat besarnya tanggung jawab kekhilafahan merealisasikan fasilitasi penduduk yang kesulitan menikah dengan menyediakan modal bagi pemuda miskin yang khawatir tak bisa membayar mahar. Lebih dari itu sistem perekonomian non ribawi dan larangan kanzul maal (menimbun harta) membuat sektor riil bertumbuh dan lapangan pekerjaan bermunculan.

 

Majelis para syekh terbuka lebar dihadiri pemuda-pemuda dari segala penjuru negeri. Gratis. Perpustakaan dijejali buku-buku dan duduk disana para guru menanti pengunjung berbagi ilmu. Tak terbersit di hati orang tua di masa itu kekhawatiran anak-anak mereka tak bisa meraih pendidikan karena alasan biaya. Belum lagi sumbangsih konglomerat mendirikan universitas yang namanya tetap melegenda hingga kini. Salah satunya Fatimah Al Fihri.

 

Rumah sakit-rumah sakit didirikan dengan klasifikasi kamar-kamar berdasarkan penyakitnya. Bahkan tersedia dokter-dokter wanita. Salah satunya Rumah Sakit Bimaristan. Tak hanya gratis, bahkan pasien pulang dengan membawa uang saku karena selama sakit tak bisa bekerja. Mana ada orang tua khawatir tak bisa mengobati anaknya jika cobaan sakit tiba.

 

Nyata sekali tuntunan Islam atas kehidupan individu sejalan dengan kebutuhan negara atas regenerasi penerus peradaban. Peradaban yang hanya mengejar kehidupan masa kini akan berujung degenerasi. Peradaban yang berorientasi kehidupan masa datang yang abadi akan berujung regenerasi penerus yang mumpuni.  Dua peradaban yang sangat berbeda, tinggal kita ingin meniru yang mana.

 

Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Triana Arinda Harlis
- Dilihat 669 Kali
Berita Terkait

0 Comments