Nasional /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 08/01/2019 09:37 WIB

Komnas Perempuan Minta Setop Ekspos Pemberitaan Prostitusi Online

Bisnis Prostitusi online
Bisnis Prostitusi online
JAKARTA, DAKTA.COM - Komnas Perempuan mengkritisi sejumlah media terkait kasus prostitusi online yang melibatkan artis di Surabaya, karena telah melanggar kode etik jurnalisme, serta pemuatan berita yang sengaja mengekspos prostitusi terutama korban. 
 
"Dalam analisa media tersebut, masih banyak media yang saat memberitakan kasus kekerasan terhadap perempuan, utamanya kasus kekerasan seksual, tidak berpihak pada korban," kata Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin dalam keterangannya yang diterima Dakta, Selasa (8/1). 
 
Komnas Perempuan menyayangkan ekspos yang berlebihan pada perempuan (korban) prostitusi online, sehingga besarnya pemberitaan melebihi proses pengungkapan kasus yang baru berjalan.
 
"Pemberitaan seringkali mengeksploitasi korban, membuka akses informasi korban kepada publik, sampai pemilihan judul yang pada akhirnya membuat masyarakat berpikir bahwa korban ‘pantas’ menjadi korban kekerasan dan pantas untuk dihakimi," terangnya.
 
Pihaknya khawatir jika prostitusi online sebagai bentuk perpindahan dan perluasan lokus dari prostitusi offline. Prostitusi online menyangkut soal cyber crime yang berbasis kekerasan terhadap perempuan, terutama kasus revenge porn (balas dendam bernuansa pornografi) yang dapat berupa distribusi image atau percakapan tanpa seizin yang bersangkutan. Dalam catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2018 pengaduan langsung menyangkut revenge porn ini semakin kompleks.
 
Dengan demikian, Komnas Perempuan meminta agar penegak hukum berhenti mengekspos secara publik penyelidikan prostitusi online yang dilakukan. Kemudian, media diminta tidak mengeksploitasi perempuan yang dilacurkan, termasuk dalam hal ini artis yang diduga terlibat dalam prostitusi online.
 
"Masyarakat juga diimbau tidak menghakimi secara membabi buta kepada perempuan korban ekspoitasi industri hiburan. Semua pihak untuk kritis dan mencari akar persoalan, bahwa kasus prostitusi online hendaknya dilihat sebagai jeratan kekerasan seksual dimana banyak perempuan ditipu, diperjualbelikan," pungkasnya. **
Reporter : Boy Aditya
Editor : Asiyah Afifah
- Dilihat 228 Kali
Berita Terkait

0 Comments