Nasional / Lingkungan Hidup /
Follow daktacom Like Like
Sabtu, 29/12/2018 19:12 WIB
Tsunami Selat Sunda

Duka Korban Tsunami Banten

Salah satu rumah warga korban tsunami Selat Sunda
Salah satu rumah warga korban tsunami Selat Sunda

PANDEGLANG, DAKTA.COM - Gelombang tsunami yang menghantam pesisir pantai Banten pada Sabtu (22/12) lalu, masih menyisakan duka mendalam bagi warga Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Daerah ini menjadi lokasi paling terdampak dari bencana tsunami karena berada persis di garis pantai Provinsi Banten.

 

Di Kampung Cihanggasa, yang menjadi titik pertama distribusi logistik Tim Dakta Peduli bersama Wahana Muda Indonesia (WMI) dan Suzuki Katana Indonesia (Skin), salah seorang pengungsi bernama Mae menceritakan kejadian bencana saat gelombang tsunami menghantam wilayah tersebut.

 

"Itu awalnya saya mendengar suara gelombang, langsung saya lari ke arah gunung. Semua warga juga pada panik karena air itu datangnya cepat sekali," ungkap Mae kepada Dakta, pada Sabtu (29/12).

Warga yang mengungsi di Cihanggasa, Kecamatan Sumur, Pandeglang - Banten

 

Beruntung, Mae dan kedua anaknya yang masih kecil selamat dari bencana tersebut dan berada di tempat pengungsian.

 

"Tapi disini kami baru pertama kali dapat bantuan. Kami butuh sekali bahan makanan karena stok beras sudah sangat sedikit," imbuhnya.

 

Di posko pengungsian kedua di Desa Tunggaljaya, seorang pengungsi bernama Yekti harus tinggal bersama 41 orang lainnya di posko tersebut. Bahkan ia menceritakan jika kedua cucunya yang masih balita terkena penyakit demam karena telah sepekan tinggal disana.

 

"Masih trauma aja, apalagi kemarin sempat ada kabar air laut naik, kami jadi panik. Untuk sementara ini belum berani tinggal di rumah, paling kalau kesana hanya bersih-bersih," ungkapnya.

 

Di titik distribusi ketiga, Dusun Ketapang menjadi lokasi yang paling terkena dampak tsunami. Reruntuhan rumah dan bangunan lainnya menjadi bukti ganasnya gelombang tsunami yang menghantam daerah tersebut.

 

Salah seorang warga bernama Saptura mengemukakan bahwa ia harus kehilangan salah seorang putrinya yang meninggal dunia akibat terjangan gelombang tsunami. Istrinya yang bernama Jannah juga hingga saat ini masih belum ditemukan.

 

"Saat kejadian saya memang sedang tugas menjaga hutan, tidak ada dirumah. Anak saya yang meninggal sedang ikut PKL bersama kawan-kawannya disini," paparnya.

 

Berdasarkan data dari BNPB hingga Jumat (28/12) siang, tercatat sebanyak 426 orang meninggal dunia akibat bencana tsunami yang melanda Banten dan Lampung ini. Sementara itu sebanyak 7.202 orang lainnya luka-luka, dan lebih dari 40.000 warga masih tinggal di tempat-tempat pengungsian.

Reporter : Boy Aditya
Editor : Dakta Administrator
- Dilihat 873 Kali
Berita Terkait

0 Comments