Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 07/11/2018 09:37 WIB

Impor Pangan untuk Jaga Industri dalam Negeri

Relawan Pengusaha Muda Nasional Jokowi Maruf
Relawan Pengusaha Muda Nasional Jokowi Maruf
JAKARTA, DAKTA.COM - Kebijakan menolak impor dianggap sebagai hal yang utopis. Sikap menolak impor harus dibarengi dengan realita yang ada, sebab impor dibutuhkan negara manapun demi memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Selain itu, impor diperlukan untuk menggerakkan industri dalam negeri.
 
Janji Calon Presiden Prabowo Subianto akan menutup seluruh keran impor pangan, energi, dan air sangat sulit direalisasikan. Utamanya disebabkan oleh produksi dalam negeri yang tidak mencukupi, seperti kebutuhan di bidang pangan. Produksi dalam negeri sampai saat ini belum memadai untuk memenuhi konsumsi pangan masyarakat Indonesia yang terbilang tinggi.
 
Konsumsi yang tinggi didorong oleh pertambahan jumlah penduduk Indonesia tetapi tidak diimbangi oleh produksi pangan yang bertambah. Hal ini disampaikan oleh Afan Anugroho selaku Pengurus Nasional Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) untuk Jokowi-Ma’ruf di Jakarta, Selasa (6/11/2018).
 
Selain itu terkadang muncul masalah yang tidak bisa dihindari seperti terjadinya bencana alam, serangan hama, dan perubahan cuaca ekstrem seperti elnino yang membuat produksi pangan menurun.
 
Bendahara Nasional Repnas ini juga menambahkan, impor juga tidak bisa dihindari demi menjaga industri dalam negeri serta menekan angka pengangguran. Sebab masih sangat banyak perusahaan dalam negeri yang membutuhkan bahan baku impor guna menggerakkan produksinya.
 
“Jika menolak impor maka harus siap dengan PHK besar-besaran karena akan banyak perusahaan yang gulung tikar,” ujarnya.
 
Menurut pengusaha di bidang perkebunan dan pertanian ini, impor pangan seperti bibit pangan dan perkebunan juga masih diperlukan untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan perkebunan.
 
“Impor pangan tidak bisa dihindari untuk memicu produktivitas. Misalnya saat ini Indonesia masih melakukan impor bibit yang produktif dari Taiwan. Hal ini dilakukan karena Taiwan, merupakan negara yg lahan dan iklimnya tidak sebaik Indonesia, tetapi produk buahnya lebih bagus. Buah yang bagus itu hasil dari Research and Development (RnD) terutama pada bibitnya yang sangat baik,” jelas Afan. **
 
 
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Rilis Repnas
- Dilihat 714 Kali
Berita Terkait

0 Comments