Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Senin, 12/02/2018 11:00 WIB

Panen Raya, Harga Beras Segera Turun

ilustrasi gudang beras
ilustrasi gudang beras
SRAGEN_DAKTACOM: Sebagian besar sawah di Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, menguning tanda padi siap dipanen. Ketika Kompas.com mengunjungi sejumlah daerah persawahwan di wilayah ini pada Kamis dan Jumat (8-9/2/2017) pekan lalu, puluhan buruh tani sibuk menebas dan menggotong padi ke pinggir jalan.
 
Di pinggir jalan, mesin-mesin trasher merontokkan padi dari tangkainya. Di rumah-rumah dekat sawah, gabah menutupi pekarangan hingga teras rumah. Di atas plastik, gabah dijemur sebelum diproses menjadi beras.
 
Gabah itu kemudian dibeli oleh penebas atau tengkulak. Mereka yang kemudian memproses gabah menjadi beras dan menjualnya ke pedagang.
 
Di tengah melonjaknya harga gabah dan beras, panen ditunggu-tunggu oleh para pemasok agar gabah segera datang dan gudang mereka penuh kembali. Salah satunya Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya sebagai pengelola Pasar Beras Induk Tjipinang.
 
Hingga Februari ini, harga beras kualitas medium terpantau sempat melonjak hingga Rp 13.600 per kilogram, melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 9.450 per kilogram. Stok di Cipinang belum optimal, hanya ada 21.000 ton dari idealnya 30.000 ton.
 
"Harga di Pasar Induk saat ini turun 2-3 persen tapi angkanya masih tinggi dibanding sebelumnya. Jadi mengenai stok itu kami akan jaga terus di atas 20.000 ton," kata Arief.
 
Ia mengatakan ketika panen berlangsung, akan ada jeda beberapa hari untuk memproses gabah menjadi beras. Setelah itu, beras akan dipasok memenuhi daerah setempat. Sisanya kemudian mengisi gudang di Cipinang.
 
Ketika stok di Cipinang dan tempat lain berlimpah, harga beras akan turun.
 
"Pertengahan Februari sampai satu bulan harga akan kembali. Kami inginnya berdoa supaya panen lancar, nggak ada wereng, banjir, atau disaster," ujar Arief.
 
Sementara itu, sejumlah petani di Jawa Tengah mengeluhkan hujan yang terus-menerus turun. Cuaca membuat gabah yang baru dipanen tak bisa dijemur di bawah terik matahari.
 
"Hasil di sini melimpah tetapi cuaca ekstrem," kata Yasin, petani di Demak.
 
Yasin menyayangkan jika padi varietas mentik wangi yang dikembangkannya akan jadi beras berkualitas buruk jika tak segera dikeringkan. Pengeringan dibutuhkan untuk menurunkan kadar air beras hingga di bawah 14 persen. Ia khawatir kerja keras selama beberapa bulan terakhir tak berbuah keuntungan jika gabab tak bisa dikeringkan.
 
"Akhirnya jadi jual basah ke pembeli, kemarin keburu lepas padahal kalau tunggu kering harga sampai Rp 7.000 per kilogram yang kering giling, rasanya nyesel kecewa jual murah basah," kata Yasin.
 
Senada dengan Yasin, Setiarma dari Sukahrjo juga mengatakan keberhasilan penjualan panen tergantung pada cuaca. Jika petani tak mampu mengeringkan padi secara alami, mereka terpaksa menjual dengan harga lebih murah ke tengkulak. Tengkulak bisa mengambil selisih keuntungan lebih besar dari petani dan pedagang beras.
 
"Ini bagaimana supaya pas hujan bisa tetap jemur, bisa jaga kualitas. Karena kualitas ini utama, tidak bisa kami abaikan, karena nilai harganya bisa turun," kata Setiarma.
 
Ia berharap alih-alih menyubsidi benih dan pupuk dengan kualitas buruk, pemerintah bisa membantu petani memiliki mesin pengering gabah.
 
"Kalau petani fasilitas teknologinya saja dibantu, alat-alat seperti blower, pengering itu paling kami butuhkan," kata dia.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Kompas.com
- Dilihat 166 Kali
Berita Terkait

0 Comments