Parlemen / DPR RI /
Follow daktacom Like Like
Senin, 08/01/2018 16:11 WIB

Fahri: BSSN Jangan Jadi Alat Penghambat Kebebasan Berpendapat

Fahri Hamzah 1
Fahri Hamzah 1
JAKARTA_DAKTACOM: Wakil Ketua DPR RI Korkesra Fahri Hamzah menyatakan setuju dengan keberadaan Satgas Anti SARA dan juga Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang berada langsung di bawah Presiden. Namun ia menegaskan, kedua badan tersebut tidak di konversi menjadi alat untuk menghambat dan menekan kebebasan berpendapat.
 
“Saya setuju Satgas Anti SARA dan Badan Siber ini di bawah Presiden, karena itu adalah mata dan telinga Presiden dalam mengambil keputusan. Jadi tolong itu digunakan sebagai mata dan telinga Presiden saja, jangan digunakan sebagai mekanisme politik untuk kriminalisasi. Itu bisa memancing kekacauan tambahan,” tegas Fahri di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (8/01/2018).
 
Menurut Fahri, kriminalitas yang sudah diatur didalam undang-undang, biarlah diproses melalui mekanisme yang normal, jangan dibuat atau didesain. Oleh karenanya, Fahri menghimbau agar keberadaan Satgas Anti SARA dan BSSN jangan sampai dipakai untuk kepentingan tertentu yang tidak semestinya, seperti memantau media sosial untuk mengetahui siapa saja yang menghina Presiden dan keluarganya, atau siapa yang menghina pejabat.
 
“Laporan-laporan ini bisa berbahaya betul. Karena itu adalah dinamika yang harus kita terima dahulu. Kalau ada orang yang kecewa dengan itikad masyarakat, biarkan saja masyarakat yang melaporkan. Biarlah dinamika itu terjadi secara independen dan natural,” tandasnya.
 
Fahri berharap agar jangan sampai ada lembaga negara yang justru digunakan karena ada kepentingan pribadi. Ia menegaskan, sangat tidak sehat apabila menggunakan institusi-institusi negara yang ada, namun dengan tujuan untuk menghambat kebebasan warga negara dalam berpendapat dan berbicara.
 
“Meskipun ada diantara kebebasan berpendapat dan berbicara itu yang kebablasan, tetapi mekanisme kebebasan itu akan melakukan koreksi terhadap kebebasan itu sendiri. Kebebasan itu indahnya adalah meskipun dia bebas dan cenderung anarki, tetapi dia punya mekanisme untuk save corrections atau mengoreksi dirinya daripada otorianisme yang tidak bisa dikontrol,” pungkasnya.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : dpr.go.id
- Dilihat 210 Kali
Berita Terkait

0 Comments