Bekasi / Kabupaten /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 06/12/2017 07:15 WIB

Penjualan Bekasi Fajar Industrial Estate Lampaui Target

Ilustrasi Kawasan industri
Ilustrasi Kawasan industri
CIKARANG_DAKTACOM: Penjualan lahan industri PT Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST) laris manis. Saat ini, angka pendapatan pra penjualan (marketing sales) BEST sudah melampaui target akhir tahun.
 
BEST sejatinya hanya memperkirakan penjualan lahan di tahun ini sekitar 30 hektare (ha) hingga 40 ha. Namun, hingga di akhir November lalu, BEST sudah berhasil menjual 42 ha lahan industri.
 
Dari penjualan tersebut, pengembang Kawasan Industri MM2100 Cibitung, Bekasi, Jawa Barat itu telah mengantongi marketing sales senilai Rp 1,1 triliun. 
 
"Penjualan mencapai 120% dari target. Ini merupakan performa terbaik perusahaan sejak tahun 2014," ujar Joey Faustian, Analis Indo Premier Sekuritas dalam risetnya 28 November lalu.
 
Angka penjualan lahan ini diprediksi terus meningkat. Manajemen BEST sebelumnya mengklaim, masih ada sekitar 8 ha lahan yang siap serah terima. Jadi, total penjualan lahan di kuartal IV bisa mencapai 10 ha–12 ha.
 
Jika mencapai target, Joey memperkirakan kinerja BEST di tahun depan bakal terdongkrak. Ia menghitung, dengan asumsi penjualan lahan yang belum dibukukan sekitar 32 ha, maka BEST sudah mengamankan pendapatan sekitar Rp 896 miliar pada 2018. Perhitungan ini menggunakan asumsi harga jual rata-rata yang sekitar Rp 2,8 juta per meter persegi.
 
Antonia Febe Hartono, Analis Danareksa Sekuritas, mengatakan, penjualan BEST sudah melebihi ekspektasi. Awalnya Antonia memprediksi BEST hanya mampu membukukan penjualan lahan seluas 35 ha saja. 
 
"Sehingga, kami yakin BEST akan mencatatkan kinerja keuangan yang cemerlang di kuartal IV-2017, didukung oleh penjualan lahan industri," papar dia.
 
Antonia memperkirakan, pada kuartal empat ini, pendapatan BEST bisa mencapai Rp 436 miliar, atau tumbuh 103,8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Lalu, laba bersih BEST diproyeksi mencapai Rp 162 miliar, atau naik 45,8% dari kuartal sebelumnya. Lalu, hingga akhir tahun ini BEST berpotensi mengantongi pendapatan Rp 1,07 triliun dengan laba bersih Rp 488 miliar.
 
Harga lahan
 
Meski demikian, prospek cerah bisnis kawasan industri BEST masih tetap dibayangi harga jual lahan yang cenderung stabil. Manajemen BEST memperkirakan, harga jual lahan di tahun depan masih bisa naik dari Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta per meter persegi menjadi Rp 2,6 juta–Rp 3,2 juta per meter persegi.
 
Namun Antonia memprediksi kalau BEST bakal memberi diskon harga demi mengejar target penjualan yang agresif di tahun depan. Jadi, dalam perhitungan Antonia, harga lahan industri BEST masih akan stabil pada kisaran Rp 2,6 juta per meter persegi. Pada 2018 mendatang, manajemen BEST menargetkan bisa menjual 35 ha hingga 45 ha lahan industri.
 
Di sisi lain, BEST memanfaatkan sinyal positif bisnis kawasan industri untuk melakukan efisiensi dengan melepas sebagian saham di segmen pergudangan. BEST mengurangi kepemilikannya di perusahaan patungan, PT Daiwa Manunggal Logistik Properti. BEST memangkas porsi saham dari semula 51% menjadi hanya 31%.
 
Muhammad Nafan Aji, Analis Binaartha Parama Sekuritas, menilai, keputusan tersebut cukup positif. Dengan mengurangi porsi bisnis pergudangan, BEST bisa lebih fokus mengembangkan bisnis kawasan industri. "Penjualan lahan industri lebih prospektif ke depannya," ujar dia.
 
Nafan bilang, sejak semester satu lalu, perolehan laba bersih BEST cenderung tergerus dibandingkan di 2016. Namun, dengan penjualan lahan yang membaik, laba perusahaan di akhir tahun bisa tumbuh lebih tinggi.
 
Apalagi, perusahaan tengah berusaha untuk mengurangi beban utangnya. Di bulan Desember ini, BEST akan mengantongi pinjaman senilai 2,2 miliar yen.
 
Fasilitas kredit ini akan digunakan untuk membiayai pinjaman dalam mata uang asing sekaligus sebagai modal kerja. "Jadi kinerja akhir tahun nanti bisa lebih baik dari 2016," prediksi Nafan.
 
Joey memprediksi pendapatan BEST di tahun depan akan mencapai Rp 1,19 triliun dengan laba bersih Rp 556 miliar. Sementara itu, Antonia memperkirakan, pendapatan BEST tahun depan mencapai Rp 1,22 triliun atau naik 14,5% year on year. Lalu, laba bersih BEST diperkirakan meningkat 15,9% menjadi Rp 537 miliar.
 
Karena prospek kinerja yang masih kinclong, ketiga analis ini merekomendasikan buy untuk saham BEST. Nafan memberi target harga Rp 296 per saham. Lalu, Joey memasang target harga sebesar Rp 380 per saham.
 
Antonia juga mempertahankan rekomendasi buy. Namun, karena harga lahan industri BEST di tahun depan kemungkinan masih stabil, ia memangkas target harga saham BEST dari semula Rp 340 per saham menjadi Rp 320 per saham.
 
Pada penutupan perdagangan di bursa Selasa (5/12), saham BEST berada di zona merah. Saham perusahaan pengelola kawasan industri ini turun 3,82% ke level Rp 252 per saham.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : bisnis.com
- Dilihat 101 Kali
Berita Terkait

0 Comments