Mutiara Hikmah /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 20/05/2015 07:26 WIB

Bersyukurlah Jika Anda Masuk Penyeru Hidayah

Lapadz Allah
Lapadz Allah

Bersyukurlah bila  kita memiliki keinginan untuk termasuk dalam barisan orang-orang yang menyerukan Islam dan menyebarkan hidayah Allah swt. Bersyukurlah, bila kita saat ini telah ada dalam barisan orang-orang yang membawa penerangan dan lentera di tengah kegelapan. Indah sekali senandung yang dikatakan oleh para pendahulu kita, “Dalam hidup ini, kami hanya pengembara. Kami menyambung pengembaraan orang-orang sebelum kami. Mereka yang lebih dahulu berangkat, memberi tahu kami rambu-rambu untuk menempuh perjalanan. Maka kewajiban kami adalah memberi tahu kepada orang-orang yang ada di belakang kami,” (Azam Diwan Matsani,139).

Ya, mereka yang lebih dahulu melakukan perjalana ini  telah memeras keringat, mempersembahkan raga dan jiwanya hingga aqidah Islam tertanam dalam lubuk hati kita. Melalui merekalah kita terhindar dari ombak dan ganasnya kehidupan yang menghanyutkan. Lewat mereka kita mengerti apa arti hidup, bagaimana seharusnya kita hidup, dan kemana akhir tujuan hidup kita yang hakiki. Apa artinya? Mereka telah menanam, dan kita telah makan. Selanjutnya, kita akan menanam, dan orang-orang setelah kita yang makan. Begitulah logikanya. Kita harus menyambung estafet penyebaran hidayah Allah kepada oraang sekeliling kita.

Menyebarkan kebenaran sudaha pasti banyak resikonya. Bahkan resiko itulah yang kita tangkap dari sirah (Sejarah) Rasulullah para nabi sebelumnya dan para  salafusshalih. Tapi semoga kita tak pernah lari dari medan ini. Lari dari medan ini, sebenarya adalah menghindar dari medan kehidupan yang menguji dan meningkatkan kualitas iman dan kesabaran. Orang yang cenderung menyendiri, menghindar dari risiko menyebarkan kebenaran dan menyepi dari ragam pergulatan itu disinggung oleh Mushthafa Ar Rafi’i dalam ungkapannya” Orang itu mengira telah lari dari kotoran (dari berbaur dengan banyak manusia) kepada kemuliaan. Padahal sebenarnya, ia lari dan menghindar dari kemuliaan itu sendiri”

Apa artinya menjaga diri dari kemaksiatan, memiliki sikap amanah, jujur, berbakti, ihsan, dan semua moral yang baik  ia tinggal di tengah padang pasir atau di puncak gunung sendirian? Apakah ada yang mengakui kejujurannya sebagai akhlak mulia, bila tidak ada orang di sekitarnya, kecuali pohon dan bebatuan? Demi Allah, orang yang lari dari perang terhadap keburukan adalah orang yang melepas semua keutamaan...”(Wahyul Qolam, 2/97).

Jika dahulu di awal kenabian, Jibril AS, mendekap erat Rasulullah saw hingga tiga kali di gua Hira dengan mengatakan, “iqra bismirabbikalladzi kholaq”... Kemudian pada kesempatan yang lain Rasulullah memeluk anak pamannya Abdullah bin Abbas, ra, dalam dekapannya sambil mengatakan, “Allahumma ‘allimhul Qor’an,” ya Allah ajarkan ia Al-Qur’an. Sekarang mari rangkul orang-orang sekeliling kita. Tuntun tangan mereka, dekap erat-erat mereka, lalu tanamkan cahaya kebenaran dalam hatinya.

Sungguh ada kebahagiaan tulus dalam hati, saat kita bisa memberi petunjuk kepada mereka yang  tengah terombang ambing. Benar-benar sebuah kebanggaan, saat kita berhasil menolong dan meluruskan langkah kembali ke jalan Allah swt. “Duhai hilang rasa  laparku, lenyap dahagaku, tak ada lagi rasa dingin ketika ada  seseorang menjadi seperti ini dibawah didikanku? Begitu Abdul Qadir Al Kailani menggambarkan kegembiraannya ( Al Fathur Rabbani, 27)

Memerlukan waktu yang lama. Memerlukan pengorbanan yang sangat banyak. Tapi tak ada lagi jalan lain yang lebih selamat. Semoga Allah mengantarkan kita ke puncak kemuliaan di dunia, dan mengizinkan kita menghirup kenikmatan surga firdaus, amin.***

 

Editor :
Sumber : Ulil Albab
- Dilihat 1353 Kali
Berita Terkait

0 Comments