Oase Iman /
Follow daktacom Like Like
Senin, 21/08/2017 09:30 WIB

Mutrafun, Kaum Kaya yang Terkena Istidraj

Ilustrasi kaum kaya
Ilustrasi kaum kaya
Oleh: Ilham Martasyabana, pegiat sejarah Islam
 
Dalam kitabnya Muqaddimah, sejarawan Ibnu Khaldun pernah berkomentar, peradaban umat manusia sesungguhnya memiliki kelemahan yang pasti, yakni selalu berproses ke arah keruntuhan ketika sudah mencapai “fase tenang”. Kapankah “fase tenang” itu?
 
Saat para pembesar negeri itu telah bermegah-megahan serta bermewah-mewahan. Fase di mana sebuah peradaban telah memuncak, materi berkelimpahan di mana-mana, baik dari penarikan pajak, hasil bumi negara dan lain-lainnya. Bisa jadi pula fase seperti ini hanya dinikmati segelintir orang yang berkuasa dan kaya raya. 
 
Selain merusak jiwa manusia, kemewahan dan kemegahan merusak pula ashabiyah yang diyakininya sebagai ikatan fanatisme solidaritas sosial antar sesama manusia di dalam sebuah peradaban. Dalam konteks ajaran Islam, solidaritas semacam ini diganti dinamakan ukhuwah.
 
Ikatan solidaritas sosial merupakan penopang peradaban itu sendiri. Ibnu Khaldun memandang, bahwa peradaban punya kecenderungan bergerak dan berproses ke arah kemewahan serta kemegahan. Nah itu menjadi racun bagi peradaban itu sendiri, lantaran kehidupan bermewah-mewahan dan bermegahan membawa kehancuran. 
Firman Allah dalam Al-Qur’an “Bilamana Kami berkehendak menghancurkan sebuah kota (peradaban), Kami suruh (jadikan) orang-orang yang bergelimang dalam kemewahan (al-mutrafun) dan melampaui batas, tetapi mereka durhaka, maka pantaslah mereka menerima adzab kemudian Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya.” (QS Al-Israa:16)
 
Bahkan dalam surat As-Saba ayat 34, Allah ta’ala telah menunjukkan bahwa orang-orang kaya dan penentu kebijakan politik-ekonomi kerap kali mengambil posisi berseberangan dengan tugas risalah. Hal itu terjadi sepanjang masa, bahkan sejak zaman para Nabi dan Rasul terdahulu. 
 
“Kami tidak mengutus kepada negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan para mutrafun (orang-orang yang hidup mewah) di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya'” (QS Saba: 34). Dalam ayat ini para mutrafun digambarkan kerap menolak risalah dan memusuhinya.
 
Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an menuturkan, “Ayat ini adalah kisah yang diulang dan sikap yang terulang sepanjang masa. Karena hidup mewah itu mengeraskan hati, menghilangkan sensitivitasnya, merusak fitrah, dan membutakannya sehingga tak dapat melihat tanda-tanda petunjuk. Akibatnya mereka menjadi sombong atas petunjuk dan berpegang pada kebatilan.”
 
Dijelaskan pula, bahwa mutrafun atau mereka yang biasa hidup mewah, kaya serta memegang kendali kebijakan politik-ekonomi di negerinya tertipu oleh ‘kenikmatan’ dan nilai-nilai palsu yang dianugerahkan kepada mereka. 
 
Kekayaan, kekuatan dan kekuasaan itu membuat mereka menyangka bahwa mereka itu diridhai oleh Rabb semesta alam, bahkan menganggap dirinya jauh dari azab Allah. Padahal dibalik tertipunya mereka, ada Istidraj dari Allah yakni penangguhan azab bagi makhluknya di kala mereka seolah-olah mendapatkan ‘nikmat’, berupa kesehatan, kekayaan dan kekuasaan.
 
Allah berfirman, “Dan mereka (mutrafun) berkata, ‘Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kalian) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (QS As-Saba: 35).
 
Dari perspektif Ibnu Khaldun, rupanya sejarawan yang sempat menjadi dosen Universitas Al-Azhar Kairo ini meyakini bahwa sumber kerusakan adab dan akhlak (moral) adalah penyebab kehancuran. Terutama dari mereka kalangan kaya dan para pemilik kekuasaan dengan segala bentuknya. 
 
Kehancuran peradaban sendiri berawal dari kesombongan, bermewah-mewahan dan bermegah-megahan. Dalam firman Allah di atas, bahkan pelaku utamanya adalah orang-orang kaya dan berkedudukan di dalam suatu negeri. Tidak ada satupun peradaban yang selamat dari ‘penyakit’ semacam ini, tak terkecuali pula peradaban Islam di masa belakangan. Buktinya, dalam negeri-negeri Islam kalangan mutrafun ini masih saja ada.
 
Solusinya, peradaban dengan segala kekuasaan dan kejayaannya wajib senantiasa diatur dan dilandasi syariah Allah, terus-menerus. Begitu juga mutrafun, mereka harus senantiasa tunduk pada amanah kekayaan dan aturan-aturan Islam.  Sehingga kepribadian orang-orang kaya nantinya bisa kembali seperti generasi Salaf. 
 
Dahulu, seringkali orang-orang kaya yang bekerja keras dalam mencari serta membantu orang-orang kesusahan. Pribadi-pribadi yang meneladani Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf (dua sahabat Rasulullah yang kaya) pun banyak bermunculan di peradaban Islam.
 
Maka sebenarnya keharusan beradab dan menegakan syariah menjadi solusi yang tiada bisa ditawar, baik dalam kepribadian, kehidupan bermasyarakat maupun  kehidupan bernegara. Peradaban-peradaban besar di masa lalu merosot dan jatuh utamanya karena kecongkakan, bermegah-megahan dan bermewah-mewahan para pembesarnya. 
 
Bahkan ada sebagian sejarawan dan intelektual mempercayai: peradaban yang meyakini berada di puncak kejayaan dan kedigdayaan sesungguhnya telah berada diambang kemerosotan dan kejatuhannya.
 
Jauh-jauh hari Rasulullah SAW pernah memperingatkan akan fitnah kekayaan, sibuk dengan bisnis dan tamak kedudukan: Jika kalian telah sibuk dengan dirham dan dinar, berjual beli ‘inah (mengandung riba), mengikut ekor sapi (sibuk bertani), dan meninggalkan jihad, Allah akan memasukan kalian ke dalam kehinaan, Dia tak akan memperdulikan kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).
 
Sabda lain beliau SAW “kalian dihinggapi penyakit Al-Wahn, yaitu kecintaan pada dunia dan takut mati (dalam memperjuangkan Islam)”(HR Abu Dawud dan Ahmad). Ini peringatan, siapa yang kekayaan, kedudukan dan kesibukannya bukan untuk menguatkan Islam, niscaya akan ditimpakan kehinaan.
Reporter : Ardi Mahardika
Editor : Azeza Ibrahim
- Dilihat 350 Kali
Berita Terkait

0 Comments