Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 21/08/2017 08:30 WIB

Mengolok dan Mencela Bukanlah Dakwah

ilustrasi diam
ilustrasi diam
Oleh: Tito Juarsa, Pegiat Komunitas Nuun
 
Secara etimologi dakwah berasal dari bahasa Arab دعا-يدعو yang menjadi bentuk masdar دعوة, berarti seruan, ajakan, atau panggilan. Dalam dakwah, manusia menyeru, mengajak dan memanggil manusia lainnya untuk melakukan kebaikan dan mengubah pola serta kebiasaan hidup sebelumnya yang kurang baik. Sedangkan secara terminologi atau istilah, menurut seorang ulama, dakwah berarti mendorong manusia atas kebaikan dan petunjuk dan menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran guna mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
 
Pada dasarnya, kehidupan seorang muslim itu adalah dakwah. Lalu di dalam kehidupan, ada begitu banyak ranah dakwah. Setiap ranah tersebut memiliki isi dan perannya masing-masing. Tidak semua orang atau organisasi mampu mengerjakan kerja-kerja dakwah yang demikian luas dan besar ini. 
 
Kita bisa menganalogikannya dengan suatu perusahaan (fiktif) Sukses Maju Lancar Jaya. Kita anggap perusahaan ini perusahaan besar yang mengayomi begitu banyak manusia dengan pekerjaan dan tugasnya masing-masing.
 
Perusahaan ini tentu memiliki beberapa bidang yang mendukung tercapainya tujuan sukses, maju dan lancar jaya. Para pegawai perusahaan Sukses Maju Lancar Jaya tentu harus bekerja dengan baik dan profesional, serta fokus mengerjakan tugas di bidangnya sendiri. Setiap bidang harus saling dukung. 
 
Pegawai di bidang pemasaran tidak mengusik pegawai di bidang administrasi keuangan. Mereka pun tidak saling menjelek-jelekan pekerjaan satu sama lain. Masing-masing sedang mengerjakan hal yang berkesinambungan satu sama lain. Jika ada satu bidang saja yang mogok, tentu perusahaan itu akan mogok pula.
 
Begitupun halnya dengan umat Islam. Kita sedang memperjuangkan agama ini dan perlu mempertanggungjawabkannya kelak. Ada sebagian umat yang sedang berjuang dalam ranah pendidikan. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan mendidik guru-guru. 
 
Sebagian yang lain berdakwah dalam ranah ekonomi dan kesejahteraan umat. Mereka tidak hanya mengumpulkan zakat dan menyalurkannya pada yang membutuhkan, tetapi juga mengusahakan kehidupan umat Islam yang mandiri dan bebas riba. Ada pula umat yang berjibaku di ranah politik dan kenegaraan. Mereka tengah bersusah payah menerapkan kenegaraan berdasar Islam dan mengurusi kepentingan rakyat di tengah ganasnya saling sikut berebut kuasa dan harta. Begitu pula umat yang berikhtiar dalam ranah kebudayaan. 
 
Ada persoalan pemikiran juga mentalitas tindakan yang perlu ditelaah dan dicari jalan keluarnya. Kita boleh berjuang dengan peran dan kapasitas masing-masing. Kita perlu fokus dan mendalami ranah dakwah yang digandrungi. Kita perlu berdakwah tanpa harus mencaci, menghujat, apalagi mencibir nyinyir saudara kita di ranah yang lainnya.
 
Kita ini mengaku berdakwah dengan membawa Al-Quran tetapi seperti lupa di dalamnya termaktub larangan mengolok-olok. Janganlah kita memandang kecil saudara kita yang hanya mampu membangun PAUD. Jangan pula melihat rendah kajian dan diskusi keilmuan sebagai dakwah yang tidak nyata. Tahanlah diri dari mencela partai Islam yang tersandung kasus korupsi. 
 
Mereka adalah saudara. Mari kita baca surat Al-Hujurat ayat 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)".
 
Allah juga tak main-main mengancam orang yang hobi mencela. Mari kita baca juga surat Al Humazah ayat satu, “Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela.”. Kata al-hamz sendiri berarti celaan dalam bentuk perbuatan, sedangkan kata al-lamz berarti celaan dalam bentuk ucapan. Satu lagi yang perlu kita fahami bersama di surat Al Qalam ayat 11, “Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” 
 
Artinya, mencela dan menghinakan orang dengan sewenang-wenang dan berjalan ke sana kemari untuk namimah (mengadu domba) juga bermakna celaan dalam bentuk ucapan. Bahkan, Allah Jalla wa ‘Alaa juga melarang kita  mencela diri sendiri. Kita bisa mengetahuinya di surat An Nisaa ayat 29, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.” Ini juga dimaksudkan untuk tidak saling membunuh, saling menikam, termasuk dalam ucapan.
 
Salah satu indikator dari fanatisme terhadap kelompok alias ashobiyah adalah gemar mencela dan mengolok-olok. Muslim bukan pencela dan pengolok. Muslim yang baik tidak melakukan hal-hal semacam itu. Apalagi terhadap saudaranya sendiri. 
 
Kita mengaku cinta pada nabi tapi seperti kesulitan mengikuti perangainya yang lemah lembut dan menawan itu. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim yang baik adalah yang membuat kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.”
 
Dahulu, para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah perihal Islam yang lebih utama. Kemudian Rasulullah pun menjawab, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Imam an-Nawawi memaknai selamat dari gangguan lisan dan tangannya ini dengan tidak menyakiti seorang muslim, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Dalam hal ini, tangan diasosiasikan dengan perbuatan.
 
Ibarat supir, seorang penyeru dakwah harus benar-benar memperhatikan rambu-rambu lalu lintas agar diri dan penumpangnya selamat dan merasa nyaman dalam perjalanan. Tanpa memperhatikan rambu-rambunya, dakwah akan mengalami banyak hambatan baik dari sisi penerima dakwah atau hal yang ditimbulkan oleh sang penyeru dakwah. 
 
Salah satu dampak destruktif dari hilangnya kepatuhan pada rambu-rambu dakwah adalah perpecahan umat, padahal Allah menyuruh kita untuk berpegang teguh pada tali-Nya dan jangan bercerai berai.
 
Seorang penyeru dakwah harus mau dan mampu memahami yang dimaksud dengan tali agama Allah, untuk kemudian terus memegangnya erat-erat. Dengan begitu, visi dan misi yang selaras untuk menjalankan dakwah diantara seluruh penyeru dakwah dari berbagai ranah dapat terwujud. 
 
Banyaknya perbedaan dalam metode dakwah dan musabaqah mencari ridha Allah seharusnya memperkuat dakwah. Layaknya sepasang kaki, ada kiri dan kanan. Ketika berjalan, kedua kaki ini ada dalam kebersamaan dan bertujuan ke tempat yang sama. Kedua kaki ini tidak berbenturan, tidak pula saling injak antara kiri dan kanan. Kalau begitu, sejauh dan seberat apapun perjalanan, rasanya akan lebih ringan dan mudah. 
 
Tidak bisa dibayangkan apabila dalam perjalanan, si kiri menghadang si kanan atau si kanan menjegal si kiri. Baik yang menjegal maupun yang terjegal akan sama-sama tersungkur dan terperosok.
 
Kalau umat Islam diibaratkan sebagai satu tubuh, maka kebersamaan seperti yang telah dipaparkan itu perlu kita terapkan kepada setiap muslim, termasuk  penyeru dakwah lainnya. Dalam hal-hal tertentu kita memang berbeda, tetapi sebetulnya bisa tetap berjalan bersama dan saling mengukuhkan satu sama lain. 
 
Kebersamaan semacam ini bukan untuk kepentingan anak atau cucu sendiri di rumah atau kepentingan kelompok ngaji-nya sendiri. Kebersamaan macam itu perlu disuburkan untuk kepentingan Islam dan setiap muslim di dunia. Dalam buku kecil yang berjudul Dari Hati ke Hati ada sebuah kutipan menarik yang disampaikan oleh Buya Hamka, “Menjadikan diri sebagai seorang muslim yang menjadi khadam dari Islam, bukan Islam dijadikan khadam bagi kepentingan diri sendiri atau golongan.”
 
Kita harus bersedia menjadi khadam atau pelayan bagi agama ini. Kita perlu fikirkan bahwa keberadaan kita di dunia ini adalah berkat rahmat dan pertolongan Allah. Seluruh potensi yang kita miliki adalah pinjaman dari Allah. Kita harus merasa bahwa kita adalah seorang hamba. Meskipun kita diberi amanah yang tinggi dalam dakwah, kita perlu terus menyadari bahwa itu adalah juga suatu bentuk pelayanan kepada Allah, agama, dan umat.
 
Setiap muslim yang telah memutuskan untuk menjadi penyeru Islam, dari kelompok manapun ia berasal, perlu ingat bahwa yang dilihat oleh penerima dakwah adalah sikap dan tindakan. Orang-orang yang menerima dakwah memperhatikan kehidupan orang yang menyeru dan mengajaknya. Mereka perlu panutan yang bisa menyelaraskan perkataan dengan perbuatan. 
 
Panutan yang dapat menerjemahkan perilaku, etika atau adab Islam sebagaimana yang diutarakan kepada mereka. Jika kita telah memutuskan untuk menjadi muslim dan dai, kita perlu menjadi orang yang cerdas dengan kapasitas keilmuan yang baik, juga memiliki kepedulian dan cinta terhadap sesama. Berjalanlah dalam dakwah dengan peran-peran yang mampu kita ambil. Jadilah penyeru yang mengedepankan persatuan umat dan rela bersinergi dalam perjuangan Islam.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 301 Kali
Berita Terkait

0 Comments