Wawancara /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 07/05/2015 14:59 WIB

Pengamat Ekonomi Eni Sri Hartati Kaget Pertumbuhan Ekonomi Hanya 4 Persen

Institut Prof The Of Moment Of Economic Finance Eni Sri Hartati
Institut Prof The Of Moment Of Economic Finance Eni Sri Hartati
Badan pusat statistik mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada bulan Januari hingga Maret berada pada 4,7 persen. Pertumbuhan ekonomi ini merupakan pertumbuhan yang paling lemah sejak tahun 2009.
 
Seperti apa sesungguhnya pengaruh dari pelemahan ekonomi di era pemerintahan Jokowi-Jk? Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dengan kondisi demikin?
 
Untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, Syifa Faradila dari Dakta akan mewawancarai Institut Prof The Of Moment Of Economic Finance Eni Sri Hartati dalam Dakta Fokus, Kamis (07/05/15).
 
 Syifa Faradila: Apa yang sebenarnya terjadi pada perekonomian Indonesia?
 
Eni Sri Hartati : Jujur kami juga agak kaget, karena prediksi kami memang di bawah 5 persen, tapi masih dalam perkiraan 4,9 persen. Karena menurut perhitungan kami, konsumsi masyarakat itu memang turun, tapi dipenurunannya masih tumbuh 4 persen, namun nyatanya hanya tumbuh 3,sekian persen. Itulah yang menyebabkan turunnya relatif jauh dari kisaran 5 persen, karena perhitungan kami sebenarnya best line dari ekonomi Indonesia ini masih sekitar 5 persen, sekalipun misalnya ada kelemahan global, ada transisi kepemimpinan atau transisi pemerintahan artinya ada nilai untuk berbagai macam realisasi anggaran pemerintah. Seandainya kebijakan-kebijakan masih prudent tidak mengganggu kinerja swasta dan kinerja konsumsi masyarakat, seharusnya kita masih berada di 5 persen kalau menurut perhitungan sederhananya.
 
Tapi yang terjadi, konsumsi masyarakat benar-benar drop, padahal konsumsi masyarakat itu hampir 60an persen porsinya di dalam pendapatan nasional kita. Ini yang menyebabkan benar-benar kita tidak hanya mengalami penurunan, tetapi anjlok karena 4,7 persen itu.
 
Syifa Faradilla: Dengan keadaan 4,7 persen, kalau melihat kebijakan-kebijakan yang selama ini sudah dikerjakan oleh pemerintahan Jokowi-Jk ternyata tidak berpengaruh juga terhadap apa yang sekarang kita lihat, apa warning yang harus dilakukan pemerintah dengan kondisi ini bu?
 
Eni Sri Hartati : Setiap kebijakan ekonomi ini berdampak langsung kepada masyarakat. Oleh karena itu setiap pemerintah harus mau melakukan perubahan terhadap kebijakan ekonomi dan harus dikalkulasi dengan matang, jadi tidak boleh dilakukan yang namanya kebijakan ekonomi ini dominasinya karena preferensi politik misalnya. 
 
Tetapi harus benar-benar dihitung betul bagaimana kondisi perekonomian kita, jadi variabel-variabel ekonomi kita inilah yang mestinya menjadi penentu kebijakan ekonomi apa yang harus diambil. Maka, kenapa kami bilang bahwa justru kebijakan-kebijakan pemerintah ini yang malah mendistorsi ekonomi, ini memang pemerintah kita yang baru cukup ambisius untuk melakukan perubahan dalam hal melebarkan ruang fiksal misalkan, dengan harapan ruang fiksal ini akan digunakan untuk pembiayaan yang produktif.
 
Tetapi ini harus dihitung antara bagaimana dampak jangka pendek dan jangka menengah, tidak bisa hanya orientasinya jangka menengah. Ketika pemerintah ini ingin melebarkan ruang fiskal dengan cara instan katakan saja langsung stop semua anggaran-anggaran subsidi, terutama subsidi untuk energi, dengan tanpa langkah-langkah antisipasinya, sehingga berakibat kalau realokasi ruang fiksal tidak bisa segera, karena harus melalui berbagai macam penyesuaian birokrasi karena transisi, maka berdampak pada perubahan nomenklatur anggaran, perombakan disusunan eselon I dan sebagainya, ini tidak bisa langsung kerja, sementara dampak jangka pendeknya langsung dirasakan oleh masyarakat jadi dengan berbagai macam kenaikan, tidak hanya kenaikan bbm yang terjadi tapi kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), elpiji dan juga karena target pajak yang berhubungan implikasinya dengan kenaikan pajak PPN dan sebagainya.
 
Tentu ini menambah beban dari divisi dunia usaha, karena dunia usaha sebelumnya terhimpit oleh tingginya suku bunga, ditambah lagi beban-beban yang tadi sudah saya sampaikan. Sementara masalah yang sebelumnya sudah terakumulasi seperti tingginya biaya logistik dan lainnya belum teratasi.
 
Akumulasi ini yang menyebabkan pertumbuhan sektor ini benar-benar anjlok, yang tadinya bisa tumbuh sekitar 5 persen tapi harus anjlok ke 3, sekian persen, yang berada di bawah 4 persen. Anjloknya kinerja sektor manufaktur ini langsung berdampak pada pengurangan lapangan kerja, sehingga sampai Februari 2015 ini bukan pengangguran yang turun, tapi malah justru naik sekitar 300 ribu orang. Penurunan penyerapan tenaga kerja ini, tentu berdampak pada daya beli masyarakat, karena pasti pendapatan masyarakat turun selain itu masyarakat dihadapkan dengan kenaikan harga, jadi wajar kalau dampaknya kepada penurunan daya beli karena itulah yang terinfeksi dari penurunan pertumbuhan konsumsi masyarakat.
 
Jadi jelas ini membuat kami kaget karena penurunannya drastis sekali. 
 
Syifa Faradilla: Berapa lama kondisi ini bertahan kalau pemerintah tidak cepat-cepat mengambil langkah? 
 
Perkiraan kami memang untuk tahun 2015 agak sulit untuk mencapai target 5,7 persen, karena triwulan ke II ini sudah masuk di bulan Mei, sampai akhir April kemarin indeks ekspetasi atau keyakinan konsumen, dan juga keyakinan tendensi bisnis masih turun, kemudian berbagai macam alokasi anggaran pemerintah sampai April belum terserap, artinya ini tinggal ada 2 bulan untuk triwulan II, penyerapan anggaran pemerintah di bulai Mei pun tak langsung efektif pasti multiplier effect terjadi di bulan Juni. 
 
Memang untungnya di bulan Juni ini ada momen ramadhan dan lebaran sedikit menggeliatkan konsumsi masyarakat, tapi konsumsi masyarakt bisa bergeliat itupun dengan catatan pemerintah jangan mengganggu dulu. Kalau misalnya kemarin TDL di bulan Mei sudah naik lagi, walaupun kami tidak bisa berharap banyak dengan adanya geliat konsumsi masyarakat oleh karena itu triwulan II pun dengan kondisi seperti itu tidak bisa selalu optimis untuk bisa langsung di atas 5 persen. Kalau di triwulan I 4,7 persen, triwulan II 5 persen maka hampir tidak mungkin selama 2015 ini mencapai 5,7 persen. 
 
Jadi yang harus dilakukan sekarang adalah pertama, konsumsi masyarakat jangan diganggu dulu artinya berbagai macam kebijakan-kebijakan penaikan harga, yang ditentukan oleh pemerintah mestinya dicarikan jalan keluar yang lain. Kedua adalah menjelang ramadhan dan lebaran ini diupayakan betul, supaya misalkan ada kenaikan harga masih wajar, jangan sampai kenaikan harga ini liar seperti lebaran-lebaran tahun lalu, karena kalau itu sampai terjadi konsumsi masyarakat justru akan turun lagi di triwulan II. 
 
Caranya seperti apa? Pertama pemerintah harus menjamin betul pasokan cukup, kedua kalau permintaan kenaikan itu ada, maka yang paling pertama harus diperhatikan adalah bagaimana menjamin pasokan bisa mengimbangi, kedua pasokan yang mengimbangi ini sedapat mungkin kalau itu bisa disuplai dari dalam negeri tentu ini harus dijadikan momentun reka free daya beli masyarakat, caranya berbagai macam insentif harus segara dilakukan, agar sektor hilir ini bisa menggeliat, artinya fasilitas, intensif dan ini harus dilakukan agar sektor hilir ini mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, ketiga tentu selama ini yang menjadi persoalan fluktuasi harga ini juga jalur distribusi, jalur distribusi ini bagaimana diperlancar agar tak ada hambatan sehingga tidak ada sortir antara permintaan dan penawaran. Yang lebih penting adalah bahwa pemerintah ini mempunyai wacana ingin mengeluarkan impress untuk pengendalian harga.
 
Impress itu harus jelas pengendalian harga memang selama ini yang menjual barang tentu pedagang, tapi pedangan yang bisa menentukan harga itu bukan pedagang yang langsung berhubungan dengan konsumen, tapi di pedagang-pedagang besarnya dan yang melakukan berbagai praktek usaha persaingan yang tidak sehat. Maka impress ini yang penting adalah bagaimana pemerintah bisa mengintervensi, supaya mekanisme pasar bekerja kembali dengan sehat.   
Editor :
Sumber : Syifa faradilla
- Dilihat 2915 Kali
Berita Terkait

0 Comments