Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 07/08/2017 11:00 WIB

Garam di Pelupuk Mata Tak Tampak, Sepeda di Seberang Lautan Tampak

petani kendeng
petani kendeng
Oleh: Tri Shubhi A, Pegiat Komunitas Nuun
 
Melihat kesalahan orang lain itu jauh lebih mudah ketimbang melihat kesalahan diri sendiri. Orang tua kita dahulu mengingatkan untuk menghindari sifat buruk semacam ini, yang kerap menclok di jiwa kita. Dengan nada menyindir, leluhur kita membuat peribahasa:
 
“Gajah di pelupuk mata tak tampak.
Semut di seberang lautan tampak.”
 
Gajah itu besar dan gajah yang berdiam di pelupuk mata seharusnya disadari dengan jelas. Gajah dalam peribahasa tersebut diibaratkan sebagai kesalahan-kesalahan, kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan. Yang sebesar gajah di pelupuk mata itu justru jarang terlihat. 
 
Bukan benar-benar tak terlihat, tetapi kita sering pura-pura tak melihatnya, tak menyadari bahwa kesalahan kita sebenarnya besar, dan tak tahu diri atas kesilapan-kesilapan sendiri.
 
Namun demikian, dalam keadaan bersama gajah di pelupuk mata, kita masih bisa mencari semut di seberang lautan sana. Semut yang kecil itu merupakan pengibaratan kesalahan orang lain. Jiwa manusia memang begitu. Lebih menikmati kesilapan-kesilapan fihak lain. Memojokkan fihak lain nampaknya memberi kenikmatan tersendiri. 
 
Mengorek setiap kesalahan orang lain membuat kita merasa sempurna dan lebih mulia. Setidaknya, kita dapat membangun sebuah fikiran, ada orang lain yang lebih buruk dari kita sendiri. Sembari berlaku begitu, kita pura-pura tak melihat dosa-dosa kita.
 
Sindiran dalam peribahasa tersebut sebenarnya amat tajam. Di dalamnya, tersimpan kehendak untuk melawan kemunafikan. Terkandung ajaran untuk berani jujur terhadap diri sendiri; sanggup menimbang diri dengan saksama. 
 
Lebih jauh, kesilapan-kesilapan fihak lain seharusnya menjadi tempat bercermin untuk menimbang diri. Ada baiknya, diri melihat ke dalam sebelum terlalu sering meracau ke luar. Begitu, kira-kira. Lebih dari itu, ada nasihat untuk melihat kenyataan dengan adil.
 
Namun, soal gajah dan semut sekarang ini, boleh jadi, telah menjadi lebih rumit. Yang ada di pelupuk mata bukan hanya gajah, melainkan juga sapi, kecebong, garam, dan tarif listrik. Yang ada di seberang lautan bukan hanya semut, melainkan juga sepeda dan ikan-ikan. 
 
Keberagaman wujud yang ada di pelupuk mata dan seberang lautan semakin meninggi. Kewaspadaan kita perlu lebih disiagakan. Kemanusiaan kita perlu semakin diadilkan dan diberadabkan. Penglihatan kita perlu semakin diawaskan. Yang kita perlukan bukan hanya mawas diri, melainkan juga tahu diri dan disertai kesanggupan bercermin dari kesalahan-kesalahan orang lain.
 
Lebih dari itu, kita juga perlu tahu yang salah dan yang benar; mampu membedakan gajah dan kecebong; mampu membedakan garam dan beras;  bisa membedakan cermin dan pantat wajan gosong; bisa pula membedakan semut dan sepeda. Kita harus mengenali hakikat kemanusiaan kita dan hal-hal pokok kehidupan dengan saksama dan baik-baik. 
 
Kita harus mengenali hubungan diri kita dengan hal-hal lain dan kemudian bersikap yang tepat atas hubungan itu menurut kewajaran yang berlaku. Kita harus mengetahui dan mengenali yang dimaksud garam dan beras serta mengetahui hubungannya dengan keberadaan lain dalam kehidupan kita. Kita tempatkan segala sesuatu yang telah kita kenali itu pada kedudukannya yang wajar dan pantas. Itulah kemanusiaan yang adil dan beradab.
 
Kita memang sering kesulitan mengenali banyak hal karena kita begitu mudah jatuh kagum atau jatuh benci pada sesuatu. Kita kelamaan berada di bawah senyuman jenderal Orde Baru. Ingatan bersama bangsa kita pada acara Dari Desa ke Desa dengan lomba Kelompok Pendengar; Pembaca dan Pemirsa (Klompencapir) nampaknya sangat kuat. Petani berprestasi diberi hadiah, tetapi yang menolak membeli bibit di KUD dituduh pembangkang. Petani pura-pura bertanya, Presiden pura-pura menjawab, dan rakyat pura-pura mengagumi Presidennya. Bukan karena benar-benar kagum, tetapi lebih karena takut ditembak. Televisi, ketika itu, berhasil membuat bangsa kita terjalin dalam persatuan fikir dan kesatuan rasa: memuja Bapak Pembangunan Indonesia.
 
Mata kita tertuju pada beras Ramos dan senyuman Pak Jendral di seberang lautan sana sehingga Tanjung Priok dan Talang Sari di pelupuk mata tak terlihat, juga persekongkolan soal gandum dan cengkeh, serta tak lupa dengan penggerogotan kekuasaan dan kekayaan bangsa oleh nafsu serakah yang mencelakakan. Semuanya tak terlihat meskipun ada di pelupuk mata. Kita memang mudah terharu dan kemudian jatuh cinta. Itulah yang dimanfaatkan kekuasaan untuk membangun macam-macam “semut” di seberang lautan sana, agar “gajah-gajah” di pelupuk mata tak terlihat.
 
Perlu nalar kritis yang luar biasa, keberanian melampaui kepentingan diri, dan amatan berdasarkan macam-macam teori untuk menyimpulkan berbagai kebrobokan Orde Baru ketika itu. Perlu perlawanan bertahun untuk meruntuhkan benteng ketidakadilan yang dibangun Pak Jendral. Akhirnya, rakyat kita bebas dari reality show Klompencapir itu. Bapak Pembangunan tumbang dan kita memamah reality show demi reality show yang lain hingga hari ini.
 
Kini, semuanya lebih rumit. Kebingungan di pelupuk mata dan di seberang lautan semakin mencanggih. Dulu, hanya gajah yang tak tampak di pelupuk. Kini, bukan hanya gajah yang tak tampak, melainkan juga garam yang sangat kecil butirannya. Sementara di seberang lautan sana sepeda menampakkan diri dengan penuh pesona bersama berbagai jenis ikan. Semuanya seperti alami. Rasanya, kehidupan bernegara kita tak ada yang salah, tetapi juga tak ada yang benar. Presiden dan kecebong hadir bersama dalam sebuah wacana seperti pembangunan infrastuktur yang bermain kelereng dengan utang luar negeri. Mereka tampak akrab dan membingungkan.
 
Petani tak lagi berpura-pura bertanya atau berpura-pura menjawab. Mereka benar-benar bertanya dan benar-benar menjawab serta benar-benar mendapat sepeda meski yang mereka perlukan adalah traktor atau kerbau serta harga jual gabah yang layak dan wajar. Tak ada petani yang ditangkap, tetapi mereka menyemen kaki mereka sendiri.
 
Rakyat tak lagi dipaksa kagum pada presidennya. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, berhantam suka-suka, membahas semut, gajah, garam, sepeda, ikan-ikan, kecebong, dan presiden dengan rumus matematika. Mereka yang melihat sepeda tak sanggup melihat garam. Mereka yang melihat garam tak sanggup melihat sepeda. Mereka melihat presiden yang disangka kecebong, melihat kecebong yang disangka presiden. Tanah reklamasi tak terawasi, tak tampak lagi, tertutup kasus penodaan golongan yang terdakwanya sudah dilupakan koran-koran dan media sosial. Kita terhalang banyak drama, banyak peristiwa, banyak kata sehingga tak bisa mengenali banyak hal sebagaimana mestinya.
 
Yang melihat sepeda membela presiden mati-matian. Yang melihat garam membenci presiden mati-matiaan. Pembelaan dan kebencian meluap-luap. Rakyat dibariskan jadi angka dukungan dan ancaman, dihitung jadi modal pemilihan tahun mendatang. Kebenaran dan kekeliruan saling silang, dirasakan dan difikirkan dengan cara sembarangan. Kita kehilangan pengetahuan yang memadai dan wajar mengenai keadaan-keadaan kita sendiri, terjerembap dalam ketidakyakinan, kebimbangan, dan ketidakpercayaan bahwa kita dapat menggapai kebenaran. Kita marah pada sesuatu yang tidak benar-benar diketahui; mengeluhkan sesuatu yang tidak kita fahami; kemudian terperangkap pada keseharian yang semakin asing dan tak dapat kita kenali lagi.
 
Di keadaan semacam ini, kita perlu menata kembali diri kita. Cara kita berfikir dan merasa harus ditajamkan. Kebiasaan untuk segera menghakimi segala sesuatu sebelum memeriksanya dengan saksama mesti dikurangi. Segala sesuatu harus kita kenali dengan lebih baik dan kemudian kita tempatkan pada tempat yang wajar. 
 
Presiden yang masih muslim jangan kita tempatkan dan jangan kita perlakukan sebagai presiden yang sudah bukan muslim. Pemimpin yang masih belajar jadi diktator jangan ditempatkan sebagai pemimpin diktator kelas dunia. Yang belum terbukti komunis jangan diganyang macam komunis mengganyang kita dulu.  Presiden yang masih manusia biasa jangan ditakjubi macam nabi yang maksum dari dosa.
 
Kita harus mewajar sebagai manusia, membangun ruang bernegara yang sehat dan layak bagi kehidupan bersama.  
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 987 Kali
Berita Terkait

0 Comments